Puasa Asyura: Keutamaan, Niat, Tata Cara, dan Amalan 10 Muharram

Jelajahi keutamaan Hari Asyura 1448H. Pelajari sejarah, dalil, dan amalan puasa Asyura pada 10 Muharram yang dapat menghapus dosa setahun lalu.

Ahmad Sanusi

Ahmad Sanusi

7 min read · 7 views

Puasa Asyura: Keutamaan, Niat, Tata Cara, dan Amalan 10 Muharram

Menyambut Hari Asyura: Mutiara di Awal Tahun Hijriah

Setiap kali kalender Islam memasuki bulan Muharram, ada satu hari yang dinanti-nanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Hari itu adalah hari ke-10, yang dikenal sebagai Hari Asyura. Tahun ini, insyaAllah Hari Asyura 1448 Hijriah akan jatuh pada tanggal 26 Juli 2026. Ini bukan sekadar penanda tanggal, melainkan sebuah momentum spiritual yang sarat dengan sejarah, keutamaan, dan amalan istimewa. Bagi seorang Muslim, Hari Asyura adalah kesempatan emas untuk meraih ampunan dan meningkatkan ketakwaan.

Mungkin kita sering mendengar tentang anjuran berpuasa di hari Asyura, namun sudahkah kita memahami makna yang lebih dalam di baliknya? Mengapa hari ini begitu dimuliakan? Peristiwa besar apa saja yang pernah terjadi pada tanggal 10 Muharram? Dan amalan apa saja yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan keberkahannya? Mari kita selami bersama, layaknya seorang murid yang haus akan ilmu, untuk memahami keagungan Hari Asyura.

Apa Sebenarnya Hari Asyura Itu?

Secara bahasa, kata 'Asyura' (عاشوراء) berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata 'asyarah' (عشرة) yang berarti sepuluh. Jadi, Hari Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Bulan Muharram sendiri merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat Asyhurul Hurum atau bulan-bulan haram (suci), bersama dengan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Allah SWT berfirman mengenai kemuliaan bulan-bulan ini:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa Muharram adalah bulan yang dimuliakan. Di dalam bulan yang mulia ini, terdapat satu hari yang lebih mulia lagi, yaitu Hari Asyura. Kemuliaannya tidak hanya berasal dari satu peristiwa, tetapi merupakan akumulasi dari berbagai kejadian penting dalam sejarah para nabi.

Sejarah dan Peristiwa Penting di Hari Asyura

Keistimewaan Hari Asyura tidak bisa dilepaskan dari jejak sejarah para nabi. Banyak peristiwa besar yang diyakini oleh para ulama terjadi pada tanggal 10 Muharram. Memahaminya akan membuat kita semakin khusyuk dalam menghidupkan hari ini.

Kisah Nabi Musa a.s. dan Selamatnya Bani Israil

Peristiwa paling utama yang menjadi dasar disyariatkannya puasa Asyura adalah diselamatkannya Nabi Musa 'alaihissalam dan kaumnya, Bani Israil, dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Ketika Nabi Musa dan pengikutnya terdesak di tepi Laut Merah, Allah dengan kuasa-Nya membelah lautan sehingga mereka bisa menyeberang dengan selamat. Sementara itu, Firaun dan pasukannya yang menyusul di belakang ditenggelamkan di laut yang sama.

Kisah ini menjadi dasar utama amalan puasa Asyura. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya tentang alasan mereka berpuasa, dan mereka menjawab:

"Ini adalah hari yang agung, hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta menenggelamkan Firaun dan kaumnya. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah, dan kami pun mengikutinya."

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda:

"Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian."

Maka, sejak saat itu, Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa juga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahtera Nabi Nuh a.s. Berlabuh

Selain kisah Nabi Musa, ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa pada tanggal 10 Muharram jugalah bahtera Nabi Nuh 'alaihissalam berlabuh dengan selamat di atas Gunung Judi setelah banjir bandang dahsyat yang menenggelamkan kaumnya yang durhaka. Sebagai bentuk syukur, Nabi Nuh dan orang-orang beriman yang bersamanya pun berpuasa pada hari itu.

Peristiwa Bersejarah Lainnya

Para ahli sejarah Islam juga mencatat beberapa peristiwa lain yang diyakini terjadi pada 10 Muharram, meskipun sebagian riwayatnya memiliki tingkat kekuatan yang berbeda-beda. Di antaranya adalah:

  • Diterimanya taubat Nabi Adam 'alaihissalam oleh Allah SWT.
  • Diangkatnya Nabi Idris 'alaihissalam ke tempat yang tinggi.
  • Diselamatkannya Nabi Ibrahim 'alaihissalam dari api Raja Namrud.
  • Dikeluarkannya Nabi Yunus 'alaihissalam dari perut ikan nun.
  • Disembuhkannya penyakit Nabi Ayyub 'alaihissalam.

Tragedi Karbala: Wafatnya Husain bin Ali r.a.

Pada sisi lain sejarah, tanggal 10 Muharram juga menjadi saksi sebuah peristiwa yang sangat memilukan, yaitu wafatnya cucu kesayangan Rasulullah SAW, Husain bin Ali radhiyallahu 'anhu, dalam pertempuran di Karbala, Irak, pada tahun 61 Hijriah. Bagi umat Islam, khususnya kalangan Syiah, hari ini adalah hari duka yang mendalam. Bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah, peristiwa ini adalah sebuah tragedi besar dalam sejarah Islam yang patut diambil ibrahnya, namun tidak mengubah esensi Asyura sebagai hari untuk beribadah dan berpuasa sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Keistimewaan dan Keutamaan Puncak: Puasa Asyura

Dari semua amalan, puasa adalah ibadah yang paling identik dengan Hari Asyura. Keutamaannya pun tidak main-main. Inilah yang menjadi motivasi terbesar bagi kita untuk tidak melewatkannya.

Pengampunan Dosa Setahun yang Lalu

Keutamaan utama dari puasa Asyura adalah pengampunan dosa. Ketika ditanya mengenai keutamaan puasa di hari Asyura, Rasulullah SAW bersabda:

"صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ"

Artinya: "Puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah agar Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1162)

Subhanallah! Dengan berpuasa satu hari saja, Allah menjanjikan ampunan untuk dosa-dosa kecil yang kita lakukan selama setahun penuh. Ini adalah rahmat dan kasih sayang Allah yang luar biasa besar. Tentu ini adalah sebuah tawaran yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Amalan Sunnah yang Dianjurkan di Hari Asyura

Untuk menyempurnakan ibadah kita di Hari Asyura, ada beberapa amalan yang dianjurkan berdasarkan petunjuk dari Rasulullah SAW dan para ulama.

1. Berpuasa Tasu'a dan Asyura

Amalan yang paling utama adalah berpuasa. Namun, untuk membedakan diri dari kebiasaan ibadah kaum Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan untuk menambahkan puasa satu hari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram yang disebut Puasa Tasu'a.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila tahun depan (aku masih hidup), insya Allah kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan." (HR. Muslim)

Sayangnya, Rasulullah SAW wafat sebelum sempat melaksanakannya. Namun, niat dan anjuran beliau menjadi sunnah yang sangat baik untuk diikuti. Dengan demikian, tingkatan puasa di bulan Muharram adalah:

  1. Paling utama: Berpuasa pada tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 (Asyura) Muharram. Untuk tahun 1448 H, ini jatuh pada hari Jumat, 25 Juli 2026 dan Sabtu, 26 Juli 2026.
  2. Baik: Berpuasa hanya pada tanggal 10 (Asyura) Muharram saja.
  3. Lebih baik lagi: Berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

2. Melapangkan Nafkah untuk Keluarga

Selain berpuasa, amalan lain yang sangat dianjurkan adalah memberikan kelapangan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Ini bisa diartikan dengan memberikan makanan yang lebih baik dari biasanya, memberikan hadiah, atau mencukupi kebutuhan mereka dengan lebih leluasa pada hari itu.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:

"Barangsiapa melapangkan (nafkah) untuk keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan (rezeki) untuknya sepanjang tahun." (HR. Al-Baihaqi dan At-Thabrani)

Meskipun sebagian ulama memperdebatkan kekuatan hadits ini, namun isinya sejalan dengan prinsip umum dalam Islam untuk selalu berbuat baik dan bersikap dermawan, terutama kepada keluarga.

3. Memperbanyak Sedekah dan Amalan Kebaikan Lainnya

Hari Asyura adalah momen yang tepat untuk melipatgandakan pahala. Gunakanlah hari ini untuk memperbanyak amalan-amalan kebaikan lainnya, seperti:

  • Memperbanyak sedekah, terutama kepada fakir miskin dan anak yatim.
  • Memperbanyak zikir, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
  • Beristighfar memohon ampunan atas segala dosa dan khilaf.
  • Berdoa, karena ini adalah hari di mana doa-doa para nabi dikabulkan.
  • Menjaga silaturahmi dengan keluarga dan kerabat.

Kesimpulan: Jangan Lewatkan Kesempatan Emas Ini!

Hari Asyura, 10 Muharram 1448 H, adalah hari yang agung dan penuh berkah. Ia adalah hari kemenangan bagi Nabi Musa, hari syukur bagi Nabi Nuh, dan hari pengampunan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Keutamaan utamanya, yaitu puasa yang dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu, adalah anugerah tak ternilai dari Allah SWT.

Marilah kita persiapkan diri untuk menyambut hari istimewa ini. Niatkan dari sekarang untuk berpuasa pada hari Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Mari kita isi hari tersebut tidak hanya dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dengan memperbanyak sedekah, doa, zikir, dan melapangkan rezeki untuk keluarga kita.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan taufik untuk dapat menghidupkan sunnah di Hari Asyura, serta menerima semua amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Ahmad Sanusi

Written by

Ahmad Sanusi

Senior Full-Stack Developer with 15+ years of experience in building scalable digital solutions.

Responses

No responses yet. Be the first to share your thoughts.

All articles