Puasa Dzulhijjah: Dalil & Keutamaan Puasa Tarwiyah & Arafah
Pahami keutamaan puasa sunnah yang sangat dianjurkan pada 1-9 hari pertama bulan Dzulhijjah, terutama puasa Tarwiyah (8) dan Arafah (9) menjelang Idul Adha. Pelajari dalil shahih dan niatnya di sini.

Ahmad Sanusi
5 min read · 46 views

Pendahuluan: Menyambut Bulan Penuh Berkah, Dzulhijjah
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, para pembaca setia blog Ahmad Sanusi.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan sebentar lagi kita akan kembali menyapa salah satu bulan termulia dalam kalender Islam, yaitu bulan Dzulhijjah. Bulan ini bukan hanya identik dengan ibadah haji dan kurban (Idul Adha), tetapi juga menyimpan sebuah periode emas yang penuh dengan keberkahan, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Pada masa-masa istimewa ini, Allah SWT membuka pintu ampunan dan pahala selebar-lebarnya. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah puasa sunnah. Banyak yang bertanya tentang "puasa 3 hari di bulan Dzulhijjah", yang umumnya merujuk pada puasa menjelang Idul Adha. Namun, keutamaannya sebenarnya mencakup sembilan hari penuh, dengan puncak pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah.
Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas mengenai puasa sunnah yang sangat dianjurkan pada 1-9 hari pertama bulan Dzulhijjah, dengan fokus utama pada puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah), lengkap beserta dalil-dalilnya. Mari kita siapkan diri untuk meraih pahala maksimal di bulan yang mulia ini.
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Sebelum membahas puasanya secara spesifik, penting bagi kita untuk memahami mengapa periode ini begitu istimewa. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut oleh para ulama sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun, bahkan melebihi hari-hari di bulan Ramadhan (kecuali malam Lailatul Qadar).
Allah SWT sendiri bersumpah dengan waktu ini dalam Al-Qur'an, yang menunjukkan betapa agungnya ia. Dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2, Allah berfirman:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Demi fajar, dan malam yang sepuluh." (QS. Al-Fajr: 1-2)
Mayoritas ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, menafsirkan bahwa "malam yang sepuluh" adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sumpah Allah ini sudah cukup menjadi bukti betapa mulianya waktu tersebut.
Keistimewaan ini juga dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَADُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
"Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab, "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid)." (HR. Al-Bukhari no. 969)
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal shalih—seperti shalat, sedekah, dzikir, dan tentu saja puasa—yang dilakukan pada periode ini memiliki nilai pahala yang luar biasa di sisi Allah SWT.
Puasa Sunnah Dzulhijjah: Dari Tanggal 1 Sampai 9
Berdasarkan hadits umum tentang keutamaan amal shalih di atas, para ulama menyimpulkan bahwa berpuasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dianjurkan. Puasa adalah salah satu amal shalih terbaik, sehingga melaksanakannya di hari-hari terbaik adalah sebuah kombinasi yang sempurna untuk meraih cinta Allah.
Dalil yang lebih spesifik mengenai praktik puasa ini datang dari salah seorang istri Nabi SAW, Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi SAW, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَأَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulan, dan pada hari Senin pertama setiap bulan serta hari Kamis." (HR. Abu Daud no. 2437 dan An-Nasa'i no. 2374. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih).
Dari hadits ini, jelas bahwa berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah adalah kebiasaan Rasulullah SAW. Jadi, bagi siapa saja yang memiliki kemampuan, sangat dianjurkan untuk berpuasa penuh dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah untuk memaksimalkan pahala.
Fokus Utama: Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arafah (9 Dzulhijjah)
Dari sembilan hari yang dianjurkan, ada dua hari yang memiliki penyebutan dan keutamaan khusus, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah (Puasa Tarwiyah) dan 9 Dzulhijjah (Puasa Arafah). Inilah yang sering menjadi fokus utama umat Islam.
1. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Hari ke-8 Dzulhijjah disebut sebagai Hari Tarwiyah. Secara bahasa, tarwiyah berarti "merenung" atau "mengambil bekal air". Dinamakan demikian karena pada hari itu, para jamaah haji mulai bersiap-siap dan mengambil bekal air di Mekkah untuk perjalanan menuju Mina dan Arafah.
Mengenai keutamaan puasa khusus di hari Tarwiyah, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan bahwa puasanya dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Namun, penting untuk diketahui bahwa para ahli hadits menyatakan riwayat ini lemah (dhaif).
Meskipun hadits spesifik tentang keutamaannya lemah, bukan berarti puasa di hari Tarwiyah tidak dianjurkan. Puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah tetap mendapatkan keutamaan karena termasuk dalam anjuran umum untuk berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, yang dalilnya kuat dan shahih. Jadi, kita tetap berpuasa pada hari ini dengan niat mengikuti sunnah umum berpuasa di awal Dzulhijjah.
2. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Inilah puncak dari puasa sunnah Dzulhijjah. Puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Hari Arafah, memiliki keutamaan yang sangat agung dan didasarkan pada dalil yang sangat kuat (shahih).
Puasa ini sangat ditekankan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Adapun bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Padang Arafah, justru disunnahkan untuk tidak berpuasa agar memiliki kekuatan fisik untuk berdoa dan berdzikir secara maksimal.
Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadits berikut:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
"Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang." (HR. Muslim no. 1162)
Subhanallah! Dengan berpuasa satu hari saja, Allah menjanjikan ampunan dosa selama dua tahun. Ini adalah sebuah penawaran luar biasa dari Allah yang Maha Pengasih yang tidak selayaknya kita lewatkan.
Niat dan Tata Cara Pelaksanaan Puasa Dzulhijjah
Tata cara pelaksanaan puasa Dzulhijjah sama seperti puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Yang membedakan hanyalah niatnya.
Niat bisa dilafalkan di dalam hati dan dianjurkan pada malam hari sebelum fajar. Namun, karena ini adalah puasa sunnah, jika seseorang lupa berniat di malam hari, ia boleh berniat di pagi harinya selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa (seperti makan atau minum) sejak fajar.
Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah (Tanggal 1-7)
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shouma syahri dzil hijjah sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Tarwiyah (Tanggal 8)
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shouma tarwiyata sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Arafah (Tanggal 9)
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shouma 'arofata sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala."
Kesimpulan
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu emas untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Di antara amalan terbaik yang bisa kita lakukan adalah berpuasa sunnah dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah.
Meskipun berpuasa selama sembilan hari penuh adalah yang terbaik, setidaknya jangan sampai kita melewatkan primadonanya, yaitu Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Keutamaannya yang agung, yaitu menghapus dosa dua tahun, adalah anugerah yang terlalu besar untuk diabaikan.
Manfaatkanlah musim ketaatan ini sebaik-baiknya. Persiapkan fisik dan mental kita untuk menyambut ladang pahala di awal Dzulhijjah. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan taufiq untuk dapat mengamalkannya. Aamiin.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Written by
Ahmad Sanusi
Senior Full-Stack Developer with 15+ years of experience in building scalable digital solutions.

Responses
No responses yet. Be the first to share your thoughts.