Surah 8Ayat 67 / 75

Al Anfaal

Rampasan PerangMadaniyahJuz 10Halaman 185
Tawanan perang di perang BadrKata-kata Bumi dalam al-Qur'anManusia ada yang menginginkan Dunia saja

مَاكَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗٓ اَسْرٰى حَتّٰى يُثْخِنَ فِى الْاَرْضِۗ تُرِيْدُوْنَ عَرَضَ الدُّنْيَاۖ وَاللّٰهُ يُرِيْدُ الْاٰخِرَةَۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌحَكِيْمٌ ﴿٦٧﴾

Mā kāna linabiyyin ay yakūna lahū asrā ḥattā yuṡkhina fil-arḍ(i), turīdūna ‘araḍad-dun-yā, wallāhu yurīdul-ākhirah(ta), wallāhu ‘azīzun ḥakīm(un).

Terjemahan

Tidaklah (sepatutnya) bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Anfal Ayat 67 - Tawanan Perang tidak Boleh Dibunuh, tapi Dibebaskan dengan Tebusan

Ketika paman Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, al-‘Abbas bin ‘Abdul Muttalib, ditawan oleh pasukan muslim bersama beberapa pasukan kafir lainnya, beliau meminta pendapat para sahabat mengenai apa yang harus dilakukan kepada para tawanan itu, dibunuh ataukah dibebaskan dengan tebusan. Pada akhirnya beliau memilih pendapat kedua. Demikianlah latar belakang turunnya ayat di atas.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: لمَاَّ أُسِرَ الْأُسَارَى يَوْمَ بَدْرٍ، أُسِرَ الْعَبَّاسُ فِيْمَنْ أُسِرَ، أَسَرَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، قَالَ: وَقَدْ أَوْعَدَتْهُ الْأَنْصَارُ أَنْ يَقْتُلُوْهُ. فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّيْ لَمْ أَنَمِ اللَّيْلَةَ مِنْ أَجْلِ عَمِّي الْعَبَّاسِ، وَقَدْ زَعَمَتِ الْأَنْصَارُ أَنَّهُمْ قَاتِلُوْهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: أَفَآتِهِمْ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. فَأَتَى عُمَرُ الْأَنْصَارَ فَقَالَ لَهُمْ: أَرْسِلُوْا الْعَبَّاسَ. فَقَالُوْا: لَا وَاللهِ لَا نُرْسِلُهُ. فَقَالَ لَهُمْ عُمَرُ: فَإِنْ كَانَ لِرَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِضًى؟ قَالُوْا: فَإِنْ كَانَ لِرَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِضًى فَخُذْهُ. فَأَخَذَهُ عُمَرُ، فَلَمَّا صَارَ فِيْ يَدِهِ قَالَ لَهُ: يَا عَبَّاسُ، أَسْلِمْ، فَوَاللهِ لَأَنْ تُسْلِمَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يُسْلِمَ الْخَطَّابُ، وَمَا ذَاكَ إِلَّا لمَاَّ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ إِسْلَامُكَ. قَالَ: وَاسْتَشَارَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا بَكْرٍ فِيْهِمْ، فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: عَشِيْرَتُكَ فَأَرْسِلْهُمْ، فَاسْتَشَارَ عُمَرُ، فَقَالَ: اُقْتُلْهُمْ، فَفَادَاهُمْ رَسُوْلُ اللهِ َصَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَنْزَلَ الله: (مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ ...). (1)

Ibnu ‘Umar mengisahkan, “Ada beberapa pasukan kafir yang ditawan oleh pasukan muslim usai Perang Badar, ‘Abbas (paman Nabi) adalah salah satunya. Ia berhasil ditangkap dan ditawan oleh seorang Ansar. Kaum Ansar mengancam akan membunuhnya. Mendengar hal itu Nabi bersabda, ‘Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan nasib pamanku, al-‘Abbas. Aku dengar kaum Ansar mengancam akan membunuhnya.’ ‘Umar menawarkan diri dan berkata, ‘Haruskah aku temui mereka?’ ‘Ya,’ jawab Rasulullah. ‘Umar kemudian pergi menemui kaum Ansar. Kepada mereka ia berkata, ‘Bebaskanlah ‘Abbas!’ Mereka menjawab, ‘Tidak! Demi Allah, kami tidak akan membebaskannya.’ ‘Umar kembali berkata, ‘Bagaimana kalau itu perintah Rasulullah?’ Mereka menjawab, ‘Jika itu perintah Rasulullah, ambillah.’ ‘Umar lalu menarik ‘Abbas seraya berkata, ‘Masuk Islamlah, wahai Abbas! Keislamanmu lebih aku sukai bahkan dibanding keislaman ayahku. Yang demikian itu karena aku tahu betapa Rasulullah begitu berharap engkau masuk Islam.’ Rasulullah kemudian meminta pendapat Abu Bakr mengenai para tawanan itu. Ia berkata, ‘Mereka adalah keluarga besarmu. Karena itu, bebaskanlah mereka.’ Beliau lalu minta pendapat ‘Umar. Ia berkata, ‘Bunuhlah mereka.’ (Setuju dengan pendapat Abu Bakr), Rasulullah lalu membebaskan para tawanan itu dengan tebusan. Berkaitan dengan hal ini Allah menurunkan firman-Nya, ma kana linabiyyin an yakuna lahu asra.”

(1) Sahih; disebutkan oleh Ibnu Kasir dari riwayat Ibnu Mardawaih. Hadis dengan sanad yang sama namun dengan redaksi yang lebih singkat diriwayatkan pula oleh al-Hakim. Ia mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih. az-Zahabiy setuju dengannya dan menilai hadis ini sahih berdasarkan syarat Muslim. Lihat: Ibnu Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 4, hlm. 89; al-Hakim, al-Mustadrak, dalam Kitab at-Tafsir, Bab Tafsir Surah al-An‘am, juz 2, hlm. 359, hadis nomor 3270. Redaksi yang lebih singkat lagi disebutkan oleh Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, dalam Kitab al-Jihad, Bab fi Fida’ al-Asir bi al-Mal, hlm. 303, hadis nomor 2690.

AnsarIslamTebusan

Asbabun Nuzul Surat Al-Anfal Ayat 67 - Imam as Suyuthi : Mengutamakan Cinta Kepada Allah Lebih Penting Mencintai Duniawi

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dari Anas bin Malik bahwasanya ia berkata, “Nabi S bermusyawarah dengan kaum Muslimin mengenai tindakan apa yang akan diambil terhadap para tawanan dalam Perang Badar. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberi kalian kuasa penuh atas diri mereka.” Umar bin Al-Khaththab berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, penggal saja leher mereka!” Akan tetapi, setelah mendengar perkataan Umar yang seperti itu beliau berpaling. Lalu Abu Bakar berdiri dan mengatakan, “Menurut kami sebaiknya engkau memaafkan mereka dan menerima tebusan mereka.” Lalu beliau memaafkan mereka dan menerima uang tebusan. Maka Allah menurunkan firman- Nya, “Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah.. .” (1) Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya ia berkata, “Pada saat Perang Badar, ketika para tawanan dihadapkan kepada beliau, Rasulullah pun bertanya kepada para sahabatnya: “Apa pendapat kalian tentang para tawanan ini?” Maka turunlah ayat Al-Qur'an sesuai pendapat Umar, “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi..." hingga akhir ayat.’ (2) At-Tirmdizi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda, “Barang-barang ghanimah (rampasan perang) tidak halal bagi seorang pun sebelum kalian. Barang-barang itu sejak dulu dilahap api yang menyambar turun dari langit.” Akan tetapi pada saat Perang Badar, kaum Muslimin memungut barang-barang ghanimah sebelum dihalalkan bagi mereka. Maka Allah menurunkan ayat, “Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (3)
1. Ibnu Jarir (10/29-30), Ahmad (3/343). 2. Munqati’: At-Tirmidzi (1714) dalam BabAl-Jihad, Al-Hakim (2/329). 3. Shahih: At-Tirmidzi (3085) dalam Bab At-Tafsir, Ahmad (2/252). Dan Ibnu Katsir telah menyebutkan hadits ini (2/4432) dan riwayat-riwayat sebelumnya. Lihat Ad-Dur Al-Mantsur (3/220).
duniawihartatawanan

Tafsir Lengkap

Beberapa ayat sebelumnya menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan dalam peperangan, di antaranya adalah ketentuan pembagian rampasan perang, maka ayat ini menjelaskan hukum-hukum lainnya, yaitu me-nyangkut tawanan perang. Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia kukuh di muka bumi sehingga dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Teguran ini ditujukan kepada beliau, namun yang dimaksudkan adalah kaum muslim saat itu, dengan pengalihan arah pembicaraan dari orang ketiga kepada orang kedua jamak (“kalian”). Demikian ini, karena melalui tawanan biasanya kalian menghendaki harta benda duniawi dengan cara tawanan tersebut dibebaskan dan diganti dengan tebusan. Padahal, balasan duniawi itu akan sirna, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat yang bersifat kekal untuk kalian; dan justru pahala akhirat inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan kalian dalam berjihad demi menegakkan agama Allah. Allah Mahaperkasa sehingga tidak mampu dikalahkan oleh siapa pun, bahkan Dia mampu memberi kemenangan kepada umat Islam dalam peperangan, seperti pada Perang Badar, Mahabijaksana dalam segala perintah dan perbuatan-Nya.

Dibaca 17 kali