Surah 48Ayat 24 / 29

Al Fath

KemenanganMadaniyahJuz 26Halaman 514
Mengecilkan kekuatan penduduk Makkah yang musyrikHikmah Allah dalam perjanjian iniMakkahMelihat apa yang manusia kerjakan

وَهُوَ الَّذِيْ كَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ اَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا ﴿٢٤﴾

Wa huwal-lażī kaffa aidiyahum ‘ankum wa aidiyakum ‘anhum bibaṭni makkata mim ba‘di an aẓfarakum ‘alaihim, wa kānallāh bimā ta‘malūna baṣīrā(n).

Terjemahan

Dialah (Allah) yang menahan tangan (mencegah) mereka dari (upaya menganiaya) kamu dan menahan tangan (mencegah) kamu dari (upaya menganiaya) mereka di tengah (kota) Makkah setelah Dia memenangkan kamu atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Fath Ayat 24 - Tanggapan Terhadap Peristiwa Pembunuhan yang Terjadi Setelah Perjanjian Hudaibiyah

Ayat ini, seperti halnya beberapa ayat di atas, turun pada Perjanjian Hudaibiyah. Ketika gencatan senjata telah disepakati oleh kaum muslim dan kaum musyrik, salah seorang sahabat dikabarkan dibunuh. Kaum muslim mencurigai beberapa kaum musyrik sebagai pelakunya dan menggelandang mereka ke hadapan Nabi. Demi menghormati kesepakatan yang telah dicapai, Rasulullah pun membebaskan mereka.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ قَالَ: قَدِمْنَا الْحُدَيْبِيَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِائَةً، وَعَلَيْهَا خَمْسُونَ شَاةً لاَ تُرْوِيهَا. قَالَ: فَقَعَدَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى جَبَا الرَّكِيَّةِ، فَإِمَّا دَعَا وَإِمَّا بَسَقَ فِيهَا. قَالَ: فَجَاشَتْ فَسَقَيْنَا وَاسْتَقَيْنَا.‏ قَالَ: ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم دَعَانَا لِلْبَيْعَةِ فِي أَصْلِ الشَّجَرَةِ‏.‏ قَالَ فَبَايَعْتُهُ أَوَّلَ النَّاسِ ثُمَّ بَايَعَ وَبَايَعَ حَتَّى إِذَا كَانَ فِي وَسَطٍ مِنَ النَّاسِ قَالَ ‏"‏ بَايِعْ يَا سَلَمَةُ ‏"‏‏.‏ قَالَ قُلْتُ قَدْ بَايَعْتُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي أَوَّلِ النَّاسِ قَالَ ‏"‏ وَأَيْضًا ‏"‏.‏ قَالَ وَرَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَزِلاً - يَعْنِي لَيْسَ مَعَهُ سِلاَحٌ - قَالَ فَأَعْطَانِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَجَفَةً أَوْ دَرَقَةً ثُمَّ بَايَعَ حَتَّى إِذَا كَانَ فِي آخِرِ النَّاسِ قَالَ ‏"‏ أَلاَ تُبَايِعُنِي يَا سَلَمَةُ ‏"‏.‏ قَالَ قُلْتُ قَدْ بَايَعْتُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي أَوَّلِ النَّاسِ وَفِي أَوْسَطِ النَّاسِ قَالَ ‏"‏ وَأَيْضًا ‏"‏‏.‏ قَالَ فَبَايَعْتُهُ الثَّالِثَةَ ثُمَّ قَالَ لِي"‏ يَا سَلَمَةُ أَيْنَ حَجَفَتُكَ أَوْ دَرَقَتُكَ الَّتِي أَعْطَيْتُكَ ‏"‏.‏ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقِيَنِي عَمِّي عَامِرٌ عَزِلاً فَأَعْطَيْتُهُ إِيَّاهَا، قَالَ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ ‏"‏ إِنَّكَ كَالَّذِي قَالَ الأَوَّلُ اللَّهُمَّ أَبْغِنِي حَبِيبًا هُوَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي ‏"‏.‏ ثُمَّ إِنَّ الْمُشْرِكِينَ رَاسَلُونَا الصُّلْحَ حَتَّى مَشَى بَعْضُنَا فِي بَعْضٍ وَاصْطَلَحْنَا.‏ قَالَ وَكُنْتُ تَبِيعًا لِطَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَسْقِي فَرَسَهُ وَأَحُسُّهُ وَأَخْدُمُهُ وَآكُلُ مِنْ طَعَامِهِ وَتَرَكْتُ أَهْلِي وَمَالِي مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ فَلَمَّا اصْطَلَحْنَا نَحْنُ وَأَهْلُ مَكَّةَ وَاخْتَلَطَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ أَتَيْتُ شَجَرَةً فَكَسَحْتُ شَوْكَهَا فَاضْطَجَعْتُ فِي أَصْلِهَا، قَالَ فَأَتَانِي أَرْبَعَةٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَجَعَلُوا يَقَعُونَ فِي رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَبْغَضْتُهُمْ فَتَحَوَّلْتُ إِلَى شَجَرَةٍ أُخْرَى وَعَلَّقُوا سِلاَحَهُمْ وَاضْطَجَعُوا فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ نَادَى مُنَادٍ مِنْ أَسْفَلِ الْوَادِي يَا لَلْمُهَاجِرِينَ قُتِلَ ابْنُ زُنَيْمٍ‏.‏ قَالَ فَاخْتَرَطْتُ سَيْفِي ثُمَّ شَدَدْتُ عَلَى أُولَئِكَ الأَرْبَعَةِ وَهُمْ رُقُودٌ فَأَخَذْتُ سِلاَحَهُمْ‏.‏ فَجَعَلْتُهُ ضِغْثًا فِي يَدِي قَالَ ثُمَّ قُلْتُ وَالَّذِي كَرَّمَ وَجْهَ مُحَمَّدٍ لاَ يَرْفَعُ أَحَدٌ مِنْكُمْ رَأْسَهُ إِلاَّ ضَرَبْتُ الَّذِي فِيهِ عَيْنَاهُ‏.‏ قَالَ ثُمَّ جِئْتُ بِهِمْ أَسُوقُهُمْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَجَاءَ عَمِّي عَامِرٌ بِرَجُلٍ مِنَ الْعَبَلاَتِ يُقَالُ لَهُ مِكْرَزٌ‏.‏ يَقُودُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى فَرَسٍ مُجَفَّفٍ فِي سَبْعِينَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَنَظَرَ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏"‏ دَعُوهُمْ يَكُنْ لَهُمْ بَدْءُ الْفُجُورِ وَثِنَاهُ ‏"‏ فَعَفَا عَنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَنْزَلَ اللَّهُ ‏(وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ‏...)‏ الآيَةَ كُلَّهَا‏. (1)

Salamah bin al-Akwa‘ mengisahkan, “Kami bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Hudaibiyah. Ketika itu rombongan umat Islam berjumlah seribu empat ratus orang. Sayangnya, kami hanya membawa lima puluh ekor kambing sehingga air susunya tidak mencukupi kebutuhan minum kami. Mengetahui hal itu, Rasulullah duduk di samping sebuah sumur, kami kurang tahu pasti apakah beliau berdoa ataukah meludahinya. Tiba-tiba saja sumur itu memancarkan air dengan amat deras sehingga kami dapat minum dan mengambil air sebanyak mungkin. Rasulullah kemudian mengajak kami menyatakan sumpah setia (baiat) kepadanya di bawah sebuah pohon. Aku pun menyatakan baiatku kepadanya bersama rombongan pertama. Beliau lalu terus dan terus lagi menerima baiat dari para sahabat yang lain. Di sela-sela membaiat rombongan yang kesekian kalinya, beliau berkata kepadaku, ‘Berbaiatlah, wahai Salamah!’ ‘Aku telah berbaiat kepadamu bersama rombongan pertama, wahai Rasulullah,’ jawabku. ‘Berbaiatlah lagi!’ kata beliau. (Aku pun menuruti perintah beliau). Ketika melihatku dalam kondisi tidak bersenjata, beliau lantas memberiku sebuah tameng atau perisai. Beliau kemudian membaiat kembali para sahabatnya. Di sela-sela membaiat rombongan yang terakhir itu, beliau bertanya lagi, ‘Mengapa engkau tidak ikut berbaiat kepadaku, wahai Salamah?’ Aku pun menjawab, ‘Aku telah berbaiat kepadamu, wahai Rasulullah. Bahkan aku telah dua kali berbaiat kepadamu, yaitu bersama rombongan pertama dan rombongan pertengahan.’ ‘Berbaiatlah sekali lagi!’ kata beliau. Aku pun berbaiat kepada beliau untuk ketiga kalinya. Selesai membaiat para sahabatnya, Rasulullah bertanya, ‘Wahai Salamah, mana tameng atau perisai yang tadi kuberikan kepadamu?’ ‘Wahai Rasulullah, tadi aku bertemu pamanku, ‘amir. Ia tidak memegang senjata sama sekali, jadi kuberikan tameng itu kepadanya,’ jawabku. Rasulullah pun tersenyum dan bersabda, ‘Kamu ini persis seperti apa yang dikatakan orang-orang terdahulu, ‘Ya Allah, berilah aku seorang kekasih yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Beberapa hari kemudian kaum musyrik mengirim kurir untuk mengajak kami berdamai. Tidak butuh waktu lama bagi kami (kaum muslim dan musyrik) untuk sepakat berdamai, sehingga kami dapat saling berpapasan dengan rasa aman. Dahulu aku bekerja untuk Talhah bin ‘Ubaidillah. Aku bekerja melayaninya dan memberi minum serta memandikan kudanya. Sebagai upah, aku mendapat imbalan berupa makanan darinya. Aku memang bertekad meninggalkan keluarga dan hartaku untuk berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya. Ketika perjanjian damai antara kami dan penduduk Mekah telah tercapai dan kami dapat saling berbaur, aku pun beranjak menuju sebuah pohon. Aku siangi duri-durinya dan aku rebahkan tubuhku di bawahnya. Tak lama kemudian mendekatlah empat orang musyrik Mekah yang tengah menggunjing Rasulullah hingga membuatku geram. Aku pun terpaksa pindah ke bawah pohon yang lain. Mereka lalu menggantungkan senjata mereka dan tidur di bawah pohon tadi. Pada saat itulah terdengar suara seorang penyeru dari dasar lembah, ‘Wahai kaum Muhajirin, Ibnu Zunaim telah terbunuh.’ Seketika itu juga aku hunus pedangku dan bergegas menghampiri empat orang musyrik yang tengah tidur itu. Aku ambil senjata mereka dan kupegang erat-erat. Aku hardik mereka, ‘Demi Tuhan yang telah memuliakan wajah Muhammad, bila kalian berani mengangkat kepala, aku pasti akan menebasnya.’ Aku lalu menggiring keempatnya ke hadapan Rasulullah. Pada saat yang sama aku melihat pamanku, ‘amir, tengah menggiring seorang pria Quraisy bernama Mikraz ke hadapan Rasulullah. Pamanku menggiringnya sambil berkuda, diikuti tujuh puluh orang musyrik yang lain. Sejenak Rasulullah memandangi mereka, lalu bersabda, ‘Lepaskanlah mereka! Biarkan saja mereka menanggung akibat kezalimannya dari awal hingga akhir.’ Beliau pun mengampuni mereka, dan Allah menurunkan firman-Nya, wahuwallaz\i kaffa aidiyahum ‘ankum wa’aidiyakum ‘anhum bibatni makkata min ba‘di an azfarakum ‘alaihim... hingga akhir ayat.”

(1) Diriwayatkan oleh Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab al-Jihad wa as-Sair, Bab Gazwah z\i Qird wa Gairiha, hlm. 1433–1435, hadis nomor 1807. Turunnya ayat di atas juga dikaitkan dengan kejadian lain yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim. Meski demikian, peristiwa-peristiwa tersebut masih dalam rangkaian Perjanjian Hudaibiyah, walaupun detail peristiwanya berbeda. Dengan demikian, bukan berarti ayat ini mempunyai sebab nuzul yang berbeda sama sekali atau dengan kata lain, ayat ini tidak turun lebih dari satu kali. Lihat: al-Bukhariy, Sahih} al-Bukhariy, dalam Kitab asy-Syurut, Bab asy-Syurut fi al-Jihad, hlm. 669–673, hadis nomor 2731–2732; Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab al-Jihad wa as-Sair, Bab Qaul Allah wa Huwa Allaz\i Kaffa Aidiyahum ‘Ankum, hlm. 1442, hadis nomor 1808.

BaiatHudaibiyahMuhajirin

Asbabun Nuzul Surat Al-Fath Ayat 24 - Imam as Suyuthi : Orang Yang Hendak Menyerang Rasul Dan Sahabatnya, Akan Tetapi Mereka Tertawan

“Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i meriwayatkan dari Anas, ia mengatakan; Pada saat hari perjanjian Hudaibiyah, delapan puluh orang laki-laki turun menuju Rasulullah dan para sahabat beliau. Mereka membawa senjata dari gunung Tan’im dan hendak menyerang Rasulullah. Akan tetapi mereka tertawan kemudian dimerdekakan oleh beliau. Maka Allah menurunkan ayat, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka.” (1) Muslim meriwayatkan hadits serupa dari Salamah bin Al-Akwa’. Ahmad dan An-Nasa'i meriwayatkan hadits serupa dari Abdullah bin Mughaffal Al-Mazani. Ibnu Ishaq meriwayatkan hadits yang sama dari Ibnu Abbas. (2)
1. Shahih: Muslim (1808) dalam Bab Al-Jihad waAs-Siyar, At-Tirmidzi (3264) dalam Bab At-Tafsir, Ahmad (3/122) dalam Al-Musnad, dan An-Nasa'i, (530) dalam Bab At-Tafsir. 2. Lihat penjelasan sebelumnya.
BinasaMakkahMasjidil Haram

Tafsir Lengkap

Dan Dialah yang mencegah tangan mereka yakni orang-orang musyrik Mekah yang berangkat untuk menyerbu tentara Rasulullah di Hudaibiyah, dari membinasakan kamu dan mencegah tangan kamu dari membinasakan mereka ketika kamu berada di tengah kota Mekah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka, yakni menjadikan kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dari mereka melalui Perjanjian Hudaibiyah. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dibaca 15 kali