Surah 25Ayat 32 / 77

Al Furqaan

PembedaMakkiyahJuz 19Halaman 362
Allah menurunkan kitab kepada beberapa Nabi-nabi-NyaSeandainya al-Qur'an itu diturunkan sekaligus

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ﴿٣٢﴾

Wa qālal-lażīna kafarū lau lā nuzzila ‘alaihil-qur'ānu jumlataw wāḥidatan - każālika - linuṡabbita bihī fu'ādaka wa rattalnāhu tartīlā(n).

Terjemahan

Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah,531) agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).

Catatan Kaki:531) Al-Qur’an itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur agar hati Nabi Muhammad saw. menjadi kuat dan mantap.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Furqan Ayat 32 - Jawaban atas Tuduhan Kaum Musyrik Terhadap Anggapan Rasulullah sebagai Utusan Allah adalah Bohong

Ayat ini turun untuk menanggapi anggapan kaum musyrik bahwa pengakuan Rasulullah sebagai utusan Allah adalah bohong adanya karena AlQur’an turun kepada beliau secara bertahap, yang mereka anggap sebagai bukti kebencian Allah kepada beliau.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ المُشْرِكُوْنَ: إِنْ كَانَ مُحَمَّدٌ كَمَا يَزْعُمُ نَبِيًّا فَلِمَ يُعَذِّبُهُ رَبُّهُ؟ أَلَا يُنَزِّلُ عَلَيْهِ القُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً؟ يُنَزِّلُ عَلَيْهِ الآيَةَ وَالآيَتَيْنِ وَالسُّوْرَةَ؟ فَأَنْزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ جَوَابَ مَا قَالُوْا: (وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ القُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً) إِلَى آخِرِ الآيَةِ. (1)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Kaum musyrik berkata, ‘Jika Muhammad memang benar seorang nabi seperti pengakuannya, mengapa Tuhan menyiksanya? Mengapa Dia tidak menurunkan Al-Qur’an kepadanya secara sekaligus; malah Dia menurunkan satu ayat, dua ayat, atau satu surah saja?’ Untuk menjawab tuduhan mereka itu Allah menurunkan firman-Nya, waqalallaz\ina kafaru laula nuzzila ‘alaihil-qur’anu jumlatan wahidah … hingga akhir ayat.”

(1) Hasan; diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Diya’uddin al-Maqdisiy dari jalur Ahmad bin ‘Abdurrahman ad-Dasytakiy dari ayahnya dari al-Asy‘as\ dari Ja‘far bin Abul-Mugirah dari Sa‘id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Namun kedua berbeda dalam hal perawi yang meriwayatkan dari Ahmad bin ‘Abdurrahman ad-Dasytakiy. Bila Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya dari Abu Bakr bin Ahmad bin al-Qasim bin ‘Atiyyah, maka Diya’uddin al-Maqdisiy meriwayatkannya dari Abu Sa‘id ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdurrahman ad-Dasytakiy. Lihat: Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 8, hlm. 2689, hadis nomor 15126; Diya’uddin al-Maqdisiy, al-Ahadis\ al-Mukhtarah, juz 10, hlm. 119–120, hadis nomor 119. ‘Abdul-Malik bin ‘Abdullah bin Dahisy dalam tahqiq-nya atas al-Ahadis\ al-Mukhtarah mengatakan Abu Sa‘id adalah perawi yang daif, sedangkan perawi lainnya yang bernama Ja‘far bin Abul-Mugirah dinilai jujur namun hafalan hadisnya agak lemah. ‘Abdul Malik dengan demikian mengatakan hadis ini hasan karena adanya hadis lain yang menguatkannya (hasan bi al-mutaba‘ah). Selain kepada Ibnu Abi Hatim dan Diya’uddin al-Maqdisiy, as-Suyutiy juga menisbatkan hadis ini kepada al-Hakim. Namun demikian, setelah ditelusuri, hadis dengan redaksi seperti ini tidak ditemukan dalam al-Mustadrak. Mungkin yang dimaksud oleh as-Suyutiy adalah hadis dengan redaksi sedikit berbeda yang diriwayatkan al-Hakim dari jalur Mansur dari Sa‘id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. al-Hakim menilai sanad hadis ini sahih berdasarkan syarat al-Bukhariy dan Muslim; dan az\-Z|ahabiy setuju dengan pendapat ini. Bila hadis ini benar yang dimaksud oleh as-Suyutiy maka sesungguhnya hadis dengan redaksi yang sama diriwayatkan pula oleh an-Nasa’iy dari jalur yang sama. Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak, dalam Kitab at-Tafsir, juz 2, hlm. 242, hadis nomor 2878; an-Nasa’iy, as-Sunan al-Kubra, dalam Kitab at-Tafsir, Bab Tafsir Surah al-Qadr, juz 10, hlm. 341, hadis nomor 11625.

Al-Qur’anRasulUtusan

Asbabun Nuzul Surat Al-Furqan Ayat 32 - Imam as Suyuthi : Orang-Orang Kafir Yang Menginginkan Al-Qur'An Diturunkan Sekaligus Tidak Bertahap

“Berkatalah orang-orang yang kafir, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al-Hakim yang mensha- hihkannya. Begitu pula Adh-Dhiya' meriwayatkan dalam kitab Al- Mukhtarah dari Ibnu Abbas, ia mengatakan; Orang-orang musyrik berkata, “Sesungguhnya Muhammad menyangka bahwa dirinya adalah Nabi. Kenapa Tuhannya dan menyiksa? Kenapa pada dirinya tidak diturunkan Al-Qur'an sekali turun saja, turun hanya satu dua ayat.” Maka Allah menurunkan ayat, Berkatalah orang-orang yang kafir, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”.. ." (1)
1. Hadits ini disebutkan oleh Al-Qurthubi (7/4904). Ia mengatakan; Dalam riwayat kedua dari Ibnu Abbas disebutkan bahwasanya ketika orang-orang Yahudi melihat Al-Qur'an secara terpisah, mereka mengatakan; Kenapa tidak diturunkan kepadanya satu kali turun saja sebagaimana diturunkannya Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, dan Zabur kepada Dawud. Lihat, Adh- Dhiya' (10/119) dalam Al-Mukhtarah.
Al-Qur'andurhakaKafir

Tafsir Lengkap

Pada ayat berikut diceritakan lagi permintaan lainnya yang mengada-ada yang dikemukakan oleh orang kafir kepada Nabi Muhammad. Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus sebagaimana kitab-kitab samawi dulu seperti kitab Taurat, Zabur,dan Injil, bukan berangsur-angsur sebagaimana Al-Qur’an?” Demikianlah, Kami turunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur agar Kami memperteguh hatimu Muhammad dengannya karena setiap kali ayat Al-Qur’an turun, nabi merasa tenang karena Allah selalu menyertainya dalam suka maupun duka dan Kami membacakannya secara tartil berangsur-angsur, perlahan dan benar, selama kurang lebih 23 tahun. Membaca Al-Qur’an dengan tartil, sangat di dianjurkan. Diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur, agar mudah dihafal, dihayati, dan diamalkan sedikit demi sedikit.

Dibaca 18 kali