Surah 22Ayat 11 / 78

Al Hajj

HajiMadaniyahJuz 17Halaman 333
Ada yang menyembah Allah di tepian

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ࣙاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ࣙانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ ﴿١١﴾

Wa minan-nāsi may ya‘budullāha ‘alā ḥarf(in), fa in aṣābahū khairuniṭma'anna bih(ī), wa in aṣābathu fitnatuninqalaba ‘alā wajhih(ī), khasirad-dun-yā wal-ākhirah(ta), żālika huwal-khusrānul-mubīn(u).

Terjemahan

Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Hajj Ayat 11 - Sindiran Orang yang Beribadah kepada Allah Ketika Mendapatkan Keinginannya

Ayat ini turun untuk menyindir orang yang hanya beribadah kepada Allah jika mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebaliknya, bila keinginannya tidak tercapai, ia pun menuding Islam sebagai penyebabnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ :كَانَ نَاسٌ مِنَ الأَعْرَابِ يَأْتُوْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُسْلِمُوْنَ، فَإِذَا رَجَعُوْا إِلَى بِلَادِهِمْ فَإِنْ َوَجَدُوْا عَامَ غَيْثٍ وَعَامَ خَصْبٍ وَعَامَ وِلَادٍ حَسَنٍ، قَالُوْا :إِنَّ دِيْنَنَا هَذَا لَصَالِحٌ فَتَمَسَّكُوْا بِهِ، وَإِنْ وَجَدُوْا عَامَ جُدُوْبَةٍ وَعَامَ وِلَادٍ سُوْءٍ وَعَامَ قَحْطٍ، قَالُوْا :مَا فِيْ دِيْنِنَا هَذَا خَيْرٌ. فَأَنْزَلَ اللهُ (وَمِنَ النَّاسِ مِنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ). (1) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ: (‏وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ‏)‏ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ يَقْدَمُ الْمَدِينَةَ فَيُسْلِمُ، فَإِنْ وَلَدَتِ امْرَأَتُهُ غُلاَمًا، وَنُتِجَتْ خَيْلُهُ قَالَ: هَذَا دِينٌ صَالِحٌ‏.‏ وَإِنْ لَمْ تَلِدِ امْرَأَتُهُ وَلَمْ تُنْتَجْ خَيْلُهُ قَالَ هَذَا دِينُ سُوءٍ. (2)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Ada beberapa orang pedalaman menghadap Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan menyatakan masuk Islam. Begitu kembali ke kampung dan mendapati musim penghujan, tanaman yang subur, dan hasil ternak yang bagus, mereka dengan riang mengatakan, ‘Agama kita ini benar-benar agama yang baik.’ Mereka pun menjalankan agama dengan tekun. Sebaliknya, jika mereka mendapati musim kemarau, hasil ternak yang buruk, atau musim paceklik, mereka dengan kesal mengatakan, ‘Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam agama kita ini.’ Terkait kejadian ini Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi, waminan-nasi man ya‘budullaha ‘ala harf...." Ada pula riwayat lain yang senada meski tidak secara lugas menyatakan peristiwa di atas sebagai kejadian yang melatarbelakangi turunnya ayat ini, yaitu: Menjelaskan firman Allah, waminan-nasi man ya‘budullaha ‘ala harf, Ibnu ‘Abbas radiyallahu 'anhuma berkata, “Ada seorang pria datang ke Madinah dan menyatakan masuk Islam. Bila ia mendapati istrinya melahirkan bayi laki-laki dan kudanya berkembang biak dengan baik, ia berkata, ‘Ini agama yang benar.’ Sebaliknya, jika ia mendapati istrinya tidak melahirkan atau kudanya mandul, ia mengatakan, ‘Ini agama yang buruk.’”

(1) Sahih; diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Asy‘as\ bin Ishaq al-Qummiy dari Ja‘far bin Abi al-Mugirah dari Sa‘id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Lihat: Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 8, hlm. 2476, riwayat nomor 113798. As-Suyutiy dan asy-Syaukaniy menegaskan kesahihan sanad riwayat ini dalam kitab masing-masing. As-Suyutiy juga menisbahkan riwayat ini kepada Ibnu Mardawaih. Lihat: as-Suyutiy, ad-Durr al-Mans\ur, juz 10, hlm. 428; asy-Syaukaniy, Fath al-Qadir, (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, cet. 4, 2007), hlm. 957. (2) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Sahih} al-Bukhariy, dalam Kitab at-Tafsir, Bab wa min an-Nasi man Ya‘bud Allaha ‘ala Harf, hlm. 1183, hadis nomor 4742.

IbadahIslamMandul

Asbabun Nuzul Surat Al-Hajj Ayat 11 - Imam as Suyuthi : Orang Yang Menisbatkan Islam Dengan Keadaan, Jika Ia Dalam Keadaan Beruntung Ia Memuji Islam Dan Jika Buruk Ia Menghinanya

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata."
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Bahwa dahulu ada seorang laki-laki yang datang ke Madinah untuk masuk Islam. Ketika istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya berkembang biak, maka ia berkata, “Ini (Islam) adalah agama yang baik.” Ketika istrinya tidak melahirkan anak laki-laki dan kudanya tidak berkembangbiak, maka ia berkata, “Ini adalah agama yang buruk.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi.” (1) Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Athiyyah dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Ada seorang laki-laki Yahudi yang masuk Islam. Setelah itu penglihatannya hilang, begitu pula dengan harta dan anaknya. Dia menganggap Islam membawa sial kemudian berkata, “Aku tidak mendapatkan kebaikan pada agama ini. Penglihatanku hilang, hartaku habis dan anakku meninggal dunia.” Maka turunlah ayat, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi.” (2)
1. Shahih: Al-Bukhari (4742) dalam Bab At'Tafsir. 2. Sanadnya sangat lemah, di dalamnya terdapat perawi Athiyyah Al-Ufi yang biografinya sudah disebutkan sebelumnya. Al-Qurthubi (6/4549) menuturkan hadits ini dan mengatakan, “Bahwasanya Syaibah bin Rabi’ah berkata kepada Nabi S sebelum beliau menyatakan dakwah secara terbuka, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk memberiku rezeki berupa harta, unta, kuda, dan anak sehingga aku merasa aman bersamamu dan aku berbuat adil terhadap agamamu.” Beliau lalu berdoa sehingga Allah memberikan Rabi’ah apa yang diharapkannya. Selanjutnya Allah ingin mengujinya —padahal Allah sebenarnya Maha Mengetahui— dengan cara mengambil kembali rezeki yang telah diberikan kepadanya setelah masuk Islam. Rabi’ah lalu murtad (keluar) dari Islam. Maka Allah Tabaraka wa Ta ala menurunkan ayat ini. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, dahulu orang-orang Arab badui datang kepada Nabi B untuk masuk Islam. Ketika mereka kembali ke negerinya dan mendapatkan hujan, kesuburan, dan perkembangbiakan ternak, maka mereka berkata, “Sesungguhnya agama kita ini sangat baik sehingga kita perlu berpegang kepadanya.” Sedangkan apabila mereka mendapatkan kemarau, perkembangbiakan yang tidak baik, dan paceklik, maka mereka mengatakan, “Dalam agama kita tidak ada sedikit pun kebaikan...” Maka Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat, “Dan di antara manusia... ”(A1-Hajj: 11). Lihat: Ibnu Katsir (3/296).
akhiratberhalamanusia

Tafsir Lengkap

Di antara umat Islam, ada yang beragama secara total, tetapi ada pula yang beragama di pinggirannya saja. Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, karena rasa beragamanya tidak meresap ke dalam hati dan tidak mengakar ke dalam jiwa. Maka jika dia memperoleh kebajikan duniawi karena keislamannya, dia merasa puas, dan sebaliknya jika dia ditimpa suatu cobaan, baik dirinya maupun keluarganya, dia segera berbalik ke belakang, kembali kepada agama lama. Dia menjadi orang murtad, sehingga mendapat ke-rugi-an di dunia, karena dinilai tidak punya pendirian dan kerugian di akhirat, karena kekal di dalam neraka. Kerugian di akhirat itulah kerugian yang nyata.

Dibaca 22 kali