وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا ﴿٢٨﴾
Terjemahan
Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Asbabun Nuzul Surat Al-Kahf Ayat 28 - Larangan Meninggalkan Tamu Demi Menyambut Kedatangan Para Pembesar atau Pejabat
Ayat ini turun untuk memberi arahan kepada Rasulullah agar dengan setia melayani maksud kedatangan para sahabatnya dan tidak meninggalkan mereka hanya demi menyambut kedatangan para pembesar kaum kafir.
عَنْ خَبَّابٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى (وَلَا تَطْرُدْ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِلَى قَوْلِهِ فَتَكُونَ مِنْ الظَّالِمِينَ) قَالَ جَاءَ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ وَعُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنٍ الْفَزَارِيُّ فَوَجَدَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ صُهَيْبٍ وَبِلَالٍ وَعَمَّارٍ وَخَبَّابٍ قَاعِدًا فِي نَاسٍ مِنْ الضُّعَفَاءِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فَلَمَّا رَأَوْهُمْ حَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقَرُوهُمْ فَأَتَوْهُ فَخَلَوْا بِهِ وَقَالُوا إِنَّا نُرِيدُ أَنْ تَجْعَلَ لَنَا مِنْكَ مَجْلِسًا تَعْرِفُ لَنَا بِهِ الْعَرَبُ فَضْلَنَا فَإِنَّ وُفُودَ الْعَرَبِ تَأْتِيكَ فَنَسْتَحْيِي أَنْ تَرَانَا الْعَرَبُ مَعَ هَذِهِ الْأَعْبُدِ فَإِذَا نَحْنُ جِئْنَاكَ فَأَقِمْهُمْ عَنْكَ فَإِذَا نَحْنُ فَرَغْنَا فَاقْعُدْ مَعَهُمْ إِنْ شِئْتَ قَالَ نَعَمْ قَالُوا فَاكْتُبْ لَنَا عَلَيْكَ كِتَابًا قَالَ فَدَعَا بِصَحِيفَةٍ وَدَعَا عَلِيًّا لِيَكْتُبَ وَنَحْنُ قُعُودٌ فِي نَاحِيَةٍ فَنَزَلَ جِبْرَائِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ (وَلَا تَطْرُدْ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنْ الظَّالِمِينَ) ثُمَّ ذَكَرَ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ وَعُيَيْنَةَ بْنَ حِصْنٍ فَقَالَ (وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ) ثُمَّ قَالَ (وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ) قَالَ فَدَنَوْنَا مِنْهُ حَتَّى وَضَعْنَا رُكَبَنَا عَلَى رُكْبَتِهِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْلِسُ مَعَنَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ قَامَ وَتَرَكَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ (وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ) وَلَا تُجَالِسْ الْأَشْرَافَ (تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا) يَعْنِي عُيَيْنَةَ وَالْأَقْرَعَ (وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا) قَالَ هَلَاكًا قَالَ أَمْرُ عُيَيْنَةَ وَالْأَقْرَعِ ثُمَّ ضَرَبَ لَهُمْ مَثَلَ الرَّجُلَيْنِ وَمَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَالَ خَبَّابٌ فَكُنَّا نَقْعُدُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا بَلَغْنَا السَّاعَةَ الَّتِي يَقُومُ فِيهَا قُمْنَا وَتَرَكْنَاهُ حَتَّى يَقُومَ. (1)
Menjelaskan sebab turunnya firman Allah, wala tatrudil-laz\ina yad‘una rabbahum bil-gadati wal-‘asyiyyi ... hingga firman-Nya, fatakuna minaz-zalimin, Khabbab (bin al-Aratt) berkata, “al-Aqra’ bin Habis at-Tamimiy dan ‘Uyainah bin Hisn al-Fazariy mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang bersama Suhaib, Bilal, ‘Ammar, dan Khabbab. Mereka melihat bagaimana Rasulullah duduk bersama orang-orang mukmin yang miskin. Melihat orang-orang itu di sekeliling Nabi, keduanya pun mencela mereka. Keduanya lalu mengajak Nabi pergi meninggalkan mereka. Keduanya berkata, ‘Kami ingin sekali engkau menyediakan majelis khusus untuk kami agar orang-orang Arab tahu keutamaan kami. Ada banyak utusan dari kabilah-kabilah Arab yang datang mengunjungimu. Kami malu sekali bila utusan-utusan itu datang lalu mendapati kami sedang duduk satu majelis bersama para budak ini. Karena itu, bila kami mengunjungimu, usirlah mereka dari tempat ini. Bila kami usai, silakan saja bila engkau ingin duduk bersama mereka.’ Beliau menjawab, ‘Baiklah.’ Mereka berkata, ‘Mari kita tulis kesepakatan yang telah kita capai!’ Nabi lalu meminta selembar kertas dan menyuruh ‘Aliy menulis kesepakatan itu, sementara itu kami duduk-duduk di sisi lain masjid. Jibril ‘alaihissalam lalu datang untuk menyampaikan firman Allah, wa la tatrudil-laz\ina yad‘una rabbahum bil-gadati wal-‘asyiyyi yuriduna wajhahu ma ‘alaika min hisabihim min sya’in wa ma min hisabika ‘alaihim min syai’in fatatrudahum fatakuna minaz-zalimin. Jibril juga menyinggung perihal al-Aqra’ bin Habis dan ‘Uyainah bin Hisn; ia menyampaikan firman Allah, wa kaz\alika fatanna ba‘dahum biba‘din liyaqulu aha’ula’i mannallahu ‘alaihim min bainina alaisallahu bi’a‘lama bisy-syakirin. Jibril juga menyampaikan firman Allah, wa iz\a ja’akal-laz\ina yu’minuna bi’ayatina faqul salamun ‘alaikum kataba rabbukum ‘ala nafsihir-rahmah. Setelah itu kami mendekati beliau hingga lutut kami dan lutut beliau bersentuhan. Pada zaman dahulu, ketika Rasulullah duduk bersama kami lalu hendak meninggalkan majelis, beliau berlalu begitu saja meninggalkan kami (yakni berpamitan sebelum para sahabat meninggalkan majelis itu). Allah lalu menurunkan ayat, wasbir nafsaka ma‘al-laz\ina yad‘una rabbahum bil-gadati wal‘asyiyyi yuriduna wajhahu wala ta‘du ‘ainaka ‘anhum. Allah mengingatkan beliau agar tidak menyambut kedatangan para pemuka kaum kafir hanya karena ingin mendapatkan perhiasan duniawi. Allah melanjutkan firman-Nya, turidu zinatal-hayatid-dunya wala tuti‘ man agfalna qalbahu ‘an z\ikrina, yakni ‘Uyainah dan al-Aqra‘, wattaba‘a hawahu wakana amruhu furuta, yakni kebinasaan; itulah kejadian yang menimpa ‘Uyainah dan al-Aqra‘. Allah kemudian memberi gambaran dua orang tersebut dan permisalan kehidupan dunia. Setelah ayat itu turun, kami duduk bersama Nabi seperti biasa. Namun, bila waktu ketika beliau biasa beranjak telah tiba, kami pun berpamitan dan meninggalkan beliau, hingga akhirnya beliau beranjak.”
(1) Sahih; diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan at-Tabraniy. Lihat: Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah, dalam Kitab Abwab az-Zuhd, Bab Mujalasah al-Fuqara’, hlm. 687, hadis nomor 4127; dan at-Tabraniy, al-Mu‘jam al-Kabir, juz 4, hlm. 75–76, hadis nomor 3693. Keduanya meriwayatkan hadis ini dari jalur yang sama, yakni dari Asbat bin Nasr dari as-Suddiy dari Abu Sa‘id al-Azdiy dari Abul Kunud dari Khabbab. Al-Bazzar mengatakan bahwa hadis ini dengan sanad begini hanya diriwayatkan melalui jalur ini. Para mufasir sepakat dengan makna yang dikandung hadis ini, demikian pula siyaq ayat di atas sesuai benar dengan apa yang disampaikan para mufasir. Inilah yang memperkuat kisah di atas sebagai sebab nuzul ayat ini. Lihat: Khalid bin Sulaiman al-Maziniy, al-Muharrar fi Asbab Nuzul al-Qur’an, juz 1, hlm. 528 dan juz 2, hlm. 684.
Asbabun Nuzul Surat Al-Kahfi Ayat 28 - Imam as Suyuthi : Seseorang Yan Mengajak Nabi Melakukan Sesuatu Yang Dibenci Allah, Yaitu Membenci Para Fakir Dan Mendekati Para Pembesar
Tafsir Lengkap
Dibaca 22 kali
