Surah 5Ayat 101 / 120

Al Maidah

HidanganMadaniyahJuz 7Halaman 124
Jangan bertanya yang berlebihan

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَسْـَٔلُوْا عَنْ اَشْيَاۤءَ اِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْۚ وَاِنْ تَسْـَٔلُوْا عَنْهَا حِيْنَ يُنَزَّلُ الْقُرْاٰنُ تُبْدَ لَكُمْۗ عَفَا اللّٰهُ عَنْهَاۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ ﴿١٠١﴾

Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tas'alū ‘an asy-yā'a in tubda lakum tasu'kum, wa in tas'alū ‘anhā ḥīna yunazzalul-qur'ānu tubda lakum, ‘afallāhu ‘anhā, wallāhu gafūrun ḥalīm(un).

Terjemahan

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (niscaya) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Maidah Ayat 101- Larangan Menanyakan Sesuatu yang tidak Berguna dan Memberatkan Diri Sendiri

Ayat ini turun untuk menegur sahabat yang menanyakan kepada Nabi hal yang tidak berguna atau hal-hal secara mendetail yang justru memberatkan mereka sendiri

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَصْحَابِهِ شَىْءٌ، فَخَطَبَ فَقَالَ: عُرِضَتْ عَلَىَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا.‏ قَالَ: فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ. قَالَ: غَطَّوْا رُءُوسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِينٌ. قَالَ: فَقَامَ عُمَرُ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا. قَالَ: فَقَامَ ذَاكَ الرَّجُلُ فَقَالَ: مَنْ أَبِي؟ قَالَ:‏ أَبُوكَ فُلاَنٌ.‏ فَنَزَلَتْ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ). (1)‏ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم خَطَبَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الله تَعَالَى قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: أَكُلُّ عَامٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: فَسَكَتَ عَنْهُ حَتَّى أَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قَالَ: لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَوْ وَجَبَتْ مَا قُمْتُمْ بِهَا، ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. وَذَكَرَ أَنَّ هَذِهِ الآيةَ الَّتِيْ في المائدة نزلت في ذَالِكَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَا تَسْأَلُوْا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ). (2)

Anas bin Malik berkata, “Sebuah berita mengenai para sahabat sampai ke telinga Rasulullah. Beliau lalu berpidato, ‘Baru saja surga dan neraka ditampakkan di hadapanku. Aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti yang aku lihat hari ini. Andaikata kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’ Pada hari itu para sahabat merasakan beban teramat berat yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Mereka menutupi kepala mereka (sambil menangis) hingga suara mereka terdengar sengau. Beberapa saat berlalu hingga ‘Umar bin al-Khattab berdiri dan berkata, ‘Kami rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami.’ Dalam kondisi demikian serius, seorang pria tiba-tiba berdiri dan bertanya (dengan maksud bercanda), ‘Siapakah ayahku?’ ‘Umar menjawab, ‘Ayahmu adalah si Fulan.’ Terkait peristiwa ini turunlah firman Allah ya ayyuhal-laz\ina amanu la tas’alu ‘an asya’a in tubda lakum tasu’kum. Dalam riwayat lain, juga dijelaskan sabab turun ayat ini, yaitu: Abu Hurairah bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah berkhutbah. Beliau bersabda, “Wahai manusia! Sungguh, Allah telah mewajibkan kalian menunaikan haji.” Seorang pria lalu berdiri seraya bertanya, “Apakah kami wajib berhaji setiap tahun, wahai Rasulullah?” Rasulullah diam tidak menjawab. Pria itu pun mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Barulah Rasulullah menjawab, “Andaikata aku menjawab ya, pasti ibadah haji akan wajib setiap tahun. Bila demikian, tentu kalian tidak akan sanggup menunaikannya. Biarkan saja hal-hal yang tidak aku jelaskan secara rinci—jangan kalian menanyakannya. Sungguh, umat-umat sebelum kalian menjadi binasa akibat terlalu banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabi mereka. Bila aku melarang kalian berbuat sesuatu, tinggalkanlah. Bila aku meminta kalian berbuat sesuatu, lakukanlah sekuat tenaga kalian.” Abu Hurairah menjelaskan bahwa peristiwa ini terkait dengan turunnya ayat dalam Surah al-Ma’idah, ya ayyuhal-laz\ina amanu la tas’alu ‘an asya’a in tubda lakum tasu’kum.

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim. Lihat: Sahih} al-Bukhariy, dalam Kitab at-Tafsir, Bab Qaulih La Tas’alu ‘an Asyya’ in Tubda Lakum Tasu’kum, hlm. 1137, hadis nomor 4621; Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab al-Fada’il, Bab Tauqirih Sallallah ‘Alaih wa Sallam wa Tark Iks\ar Su’alih, hlm. 1832, hadis nomor 2359. (2) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Sahih} Ibni Hibban, dalam Kitab al-Hajj, Bab Fard al-Hajj, juz 9, hlm. 18, hadis nomor 3704. Secara konten, hadis ini sahih dan diriwayatkan misalnya oleh Muslim, Ahmad, an-Nasa’iy, daln al-Baihaqiy. Penggalan kisah ini juga disebutkan oleh al-Bukhariy dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

DetailHajiSengau

Asbabun Nuzul Surat Al-Maidah Ayat 101 - Imam as Suyuthi : Hendaknya Tidak Menanyakan Sesuatu Yang Dapat Menyusahkan Diri Sendiri

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas bin Malik bahwasanya ia berkata, “Pada suatu hari ketika Nabi sedang berkhutbah, seorang lelaki berkata kepada beliau, “Siapakah ayahku?” beliau menjabab, “Ayahmu adalah si fulan,” maka turunlah firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. ” (1) Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Bahwa sekelompok orang bertanya kepada Nabi & dengan niat untuk mengejek beliau, mereka berkata, “Siapakah ayahku!” dan dari mereka ada yang kehilangan seekor untanya kemudian ia berkata kepada Nabi, “Dimanakah untaku?” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (2) Ibnu Jarir meriwayatkan hadits serupa dari dari hadits Abu Hurairah. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ali bahwasanya ia berkata, “Ketika turun firman Allah, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah,” lalu para sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah kita harus menunaikan haji setiap tahun?”, beliau tidak menjawab. Kemudian para sahabat bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, apakah kita harus menunaikan haji setiap tahun?”, lalu beliau menjawab, “Jika aku berkata “Iya” maka akan menjadi kewajiban untuk kalian menunaikan haji setiap tahunnya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (3) Ibnu Jarir meriwayatkan hadits serupa dari hadits: Abu Hurairah, Abi Umamah, dan Ibnu Abbas. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Tidak mengapa jikalau ayat ini turun pada dua perkara tersebut, dan hadits Ibnu Abbas lebih shahih dari sisi sanadnya.”
1. Shahih: Al-Bukhari (4621) dalam Bab At-Tafsir. 2. Shahih: Al-Bukhari (4622) dalam Bab At-Tafsir. Ibnu Katsir telah menyebutkan dua riwayat sebelumnya, dan ia berkata, “Imam Al-Bukhari meriwayatkannya sendiri.” Ibnu Katsir menyebutkan bahwasanya yang bertanya tentang ayahnya adalah Abdullah bin Hudzafah. 3. Disebutkan oleh Al-Qurthubi dan ia mengatakan bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata dari Mujahid dan Ibnu Abbas bahwasanya ayat ini turun pada suatu kaum yang bertanya kepada Rasulullah tentang Al-Bahirah, As-Saibah, AbWashilah, dan Al-Ham. Hasan Al-Bashri berkata, “Mereka bertanya kepada Rasulullah tentang perihal Jahiliyah yang Allah telah memaafkannya, dan tidak perlu lagi untuk menanyakan perihal yang telah dimaafkan.” (3/2420). Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim (2/294) dan derajatnya dha’if, dan juga diriwayatatkan oleh At-Tirmidzi (3055) dalam Bab Al-Hajj.
Ak QuranBukhariIman

Tafsir Lengkap

Wahai orang-orang yang beriman, yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya! Janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu justru menyusahkan dan berdampak buruk bagi kamu. Sebab dalam Islam yang terpenting bukan bertanya, tetapi semangat untuk melaksanakan. Sebaliknya jika kamu bertanya kepada Nabi tentang masalah-masalah itu ketika Al-Qur'an sedang diturunkan, niscaya jawabannya akan diterangkan kepadamu dengan sejelas-jelasnya. Allah telah memaafkan kamu tentang hal itu, menanyakan masalah-masalah yang sudah jelas bagi orang-orang beriman. Dan Allah Maha Pengampun kepada orang-orang yang menyadari kesalahannya dengan bertobat, dan Maha Penyantun kepada seluruh hamba-hamba-Nya.

Dibaca 19 kali