Ayat ini turun ketika terjadi pertengkaran antara kaum Muhajirin dengan kaum Ansar. Mereka saling membanggakan kelompok masing-masing sehingga kelompok yang lain tersinggung. Hal tersebut terjadi karena mereka dalam keadaan mabuk sehingga tidak mampu mengendalikan diri
عن سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ أَنَّهُ نَزَلَتْ فِيهِ آيَاتٌ مِنَ الْقُرْآنِ. قَالَ: ... وَأَتَيْتُ عَلَى نَفَرٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرِينَ فَقَالُوا: تَعَالَ نُطْعِمْكَ وَنَسْقِيكَ خَمْرًا. وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ تُحَرَّمَ الْخَمْرُ. قَالَ: فَأَتَيْتُهُمْ فِي حَشٍّ - وَالْحَشُّ الْبُسْتَانُ - فَإِذَا رَأْسُ جَزُورٍ مَشْوِيٌّ عِنْدَهُمْ وَزِقٌّ مِنْ خَمْرٍ. قَالَ: فَأَكَلْتُ وَشَرِبْتُ مَعَهُمْ. قَالَ فَذُكِرَتِ الأَنْصَارُ وَالْمُهَاجِرُونَ عِنْدَهُمْ، فَقُلْتُ الْمُهَاجِرُونَ خَيْرٌ مِنَ الأَنْصَار.قَالَ: فَأَخَذَ رَجُلٌ أَحَدَ لَحْيَىِ الرَّأْسِ فَضَرَبَنِي بِهِ فَجَرَحَ بِأَنْفِي، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيَّ - يَعْنِي نَفْسَهُ - شَأْنَ الْخَمْرِ: (إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ). (1)
Sa‘d bin Abi Waqqas bercerita bahwa ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkenaan dengan dirinya. Ia berkata, “ ... pada suatu kesempatan aku berkumpul dengan sekelompok kaum Ansar dan Muhajirin. Mereka mengajakku makan dan minum khamar—hal ini terjadi sebelum khamar diharamkan. Kami berkumpul di sebuah kebun. Di sana aku jumpai kepala unta panggang dan satu kendi khamar. Kami pun makan dan minum bersama. Pembicaraan pun mengalir hingga topik tentang keutamaan kaum Ansar dan Muhajirin. Dalam kondisi mabuk aku katakan bahwa kaum Muhajirin lebih besar jasanya (atau lebih mulia) dibanding kaum Ansar. Pernyataanku ini membuat orang-orang yang hadir di tempat itu tersinggung. Seseorang dari mereka lalu mengambil satu dari dua tulang dagu unta dan melemparkannya ke arahku hingga hidungku terluka. Aku kemudian menghadap Rasulullah dan menceritakan kejadian tersebut. Berkaitan dengan peristiwa itu turunlah firman Allah innamalkhamru wal-maisiru wal-ansabu wal-azlamu rijsun min‘amalisy-syaitan. (1)
(1) Diriwayatkan oleh Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab Fada’il as-hahabah, Bab Fadilah Sa‘d bin Abi Waqqas, hlm. 1877, hadis nomor 1748.
AnsarKhamarMuhajirin
Asbabun Nuzul Surat Al-Maidah Ayat 90 - Imam as Suyuthi : Larangan Meminum Khamar, Berjudi, Percaya Berhala, Mengundi Nasib, Dan Perbuatan Keji
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (arak), berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan- perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.’’
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata, “Ketika Nabi sampai di kota Madinah, ia melihat orang-orang sedang meminum Khamar dan bermain judi, lalu mereka bertanya kepada Nabi tentang hukum keduanya, maka turunlah firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. “Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia,” lalu orang-orang berkata, “Khamar dan judi tidak diharamkan kepada kita, akan tetapi Allah hanya mengatakan di dalam kedua hal tersebut dosa yang besar.” Kemudian mereka tetap meminum khamar dan berjudi, hingga pada suatu hari seseorang dari kaum Muhajirin yang baru meminum khamar memimpin shalat maghrib dan bacaannya banyak terjadi kesalahan, maka Allah menurunkan firman-Nya yang lebih tegas dari firman sebelumnya, “Hai orang'orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” Kemudian setelah itu turun lagi ayat yang lebih keras dari sebelumnya, “Hai orang'orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala...” hingga firman-Nya, “Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”
Kemudian mereka berkata, “Kami berhenti melakukan hal tersebut wahai Tuhan kami”, dan orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, beberapa orang terbunuh dalam keadaan mereka yang melampaui batas agama ini, mereka meminum khamar dan bermain judi, akan tetapi Allah telah menjadikan hal tersebut termasuk perbuatan setan, maka turunlah firman Allah, “Tidak ada dosa bagi orang'orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu...” hingga akhir ayat.” (1) Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya ayat pengharaman khamar turun pada dua kabilah dari kabilah-kabilah Anshar yang meminum khamr, dan ketika mereka mabuk, mereka saling bercanda dengan saling memukul satu sama lain. Lalu ketika mereka sadar dari mabuk, mereka melihat ada bekas pukulan di wajah, kepala, dan janggut mereka sehingga ia berkata, “Pastilah si fulan yang melakukan ini padaku.” Sebelumnya mereka adalah saudara yang tidak mempunyai rasa dendam, ia berkata, “Jika ia penyayang dan baik, maka ia tidak akan melakukan ini padaku,” hingga muncul rasa tidak suka di hati-hati mereka, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Hai orang'orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala... ”
Orang-orang mutakallif berkata, “Itu adalah perbuatan keji (meminum khamar), dan khamar tersebut berada di dalam perut si fiilan, dan ia terbunuh pada perang uhud, maka turunlah firman Allah, “tidak ada dosa bagi orang' orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu.. .” (2)
1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/352) dan disebutkan oleh Ibnu Katsir (2/127-128).
2. Diriwayatakan oleh An-Nasa’i (11151) dalam kitab Al-Kubra, dan Al-Baihaqi (8/286). Kami telah mentakhrij dua hadits pada surat An-Nisa’: 43. Al-Qurthubi telah membahas lebar dalam menyebutkan riwayat-riwayat ini (3/2377) dan begitu pula Ibnu Katsir (2/27-135/) danperbicaraan ini telah disebutkan sebelumnya. Al-Wahidi menyebutkan sebab turun lain dari ayat ini tentang Hamzah yang meminum Khamar hlm. 171. lihat Al-Wahidi hlm .173.
HaramKhamarMudharat