Surah 58Ayat 8 / 22

Al Mujaadalah

GugatanMadaniyahJuz 28Halaman 543
Perintah untuk melihatJahannamSalamnya Ahli kitab kepada Rasulullah saw

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نُهُوْا عَنِ النَّجْوٰى ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَيَتَنٰجَوْنَ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِۖ وَاِذَا جَاۤءُوْكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللّٰهُۙ وَيَقُوْلُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللّٰهُ بِمَا نَقُوْلُۗ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُۚ يَصْلَوْنَهَاۚ فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ﴿٨﴾

Alam tara ilal-lażīna nuhū ‘anin-najwā ṡummā ya‘ūdūna limā nuhū ‘anhu wa yatanājauna bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma‘ṣiyatir-rasūl(i), wa iżā jā'ūka ḥayyauka bimā lam yuḥayyika bihillāh(u), wa yaqūlūna fī anfusihim lau lā yu‘ażżibunallāhu bimā naqūl(u), ḥasbuhum jahannam(u), yaṣlaunahā, fa bi'sal-maṣīr(u).

Terjemahan

Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (melakukan) apa yang telah dilarang itu? Mereka saling mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Apabila datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka mengucapkan salam kepadamu dengan cara yang bukan sebagaimana yang ditentukan Allah untukmu. Mereka mengatakan dalam hati, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan?” Cukuplah bagi mereka (neraka) Jahanam yang akan mereka masuki. Maka, (neraka itu) seburuk-buruk tempat kembali.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Mujadalah Ayat 8 - Mengajarkan untuk Tetap Bersabar dan tidak Terprovokasi oleh Tindakan Provokatif Orang lain

Turunnya ayat di atas berkaitan dengan kejadian ketika sekelompok orang Yahudi yang berpapasan dengan Nabi mengucapkan salam yang diplesetkan. Alih-alih mengucapkan assala>mu ‘alaik, mereka malah mengatakan assa>mu ‘alaik—matilah engkau.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ مِنْ الْيَهُودِ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ. فَقَالَ وَعَلَيْكُمْ. قَالَتْ عَائِشَةُ: قَقُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ السَّامُ وَالذَّامُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ لَا تَكُونِي فَاحِشَةً. قَالَتْ: فَقُلْتُ: ياَ رَسُوْلُ اللَّهِ أَمَا سَمِعْتَ مَا قَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ؟ َقَالَ: أَلَيْسَ قَدْ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ الَّذِي قَالُوا؟ قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ. قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ يَعْنِيْ فِيْ حَدِيْثِ عَائِشَةَ: إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ. قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ فِيْ حَدِيْثِهِ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةِ (وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ... حَتَّي فَرَغَ). (1) عَنْ عَائِشَةَ: فَفَطِنَتْ بِهِمْ عَائِشَةُ فَسَبَّتْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ يَا عَائِشَةُ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ وَزَادَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ.(2)

Ahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata, ‘assamu ‘alaik (matilah engkau!), wahai Abu al-Qasim!’ Nabi pun menjawab, ‘wa‘alaikum (kalian juga demikian!)’. ‘Wa‘alaikumus-samu waz\-z\am (Mati dan tercelalah kalian!), kataku menimpali ucapan beliau. Rasulullah lalu bersabda, ‘Wahai 'Amu ‘alaik?’ jawabku (membela diri). Beliau menjawab, ‘(Aku dengar), tapi bukankah telah kubalas ucapan mereka dengan wa‘alaikum’” Terkait hadis 'A ja’uka hayyauka bima lam yuhayyika bihillah … sampai akhir ayat.” Dalam versi yang lain cerita ini disajikan dengan redaksi berikut. Diriwayatkan dari 'Ahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, “Jangan begitu, wahai 'A ja’uka hayyauka bima lam yuhayyika bihillah … hingga akhir ayat.”

(1) Sahih; diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa’iy. Lihat: Ahmad, al-Musnad, juz 43, hlm. 93, hadis nomor 25924; an-Nasa’iy, as-Sunan al-Kubra, dalam Kitab at-Tafsir, Bab Qaulih wa iz\a Ja’uka Hayyauk, juz 10, hlm. 290, hadis nomor 11507. (2) Diriwayatkan oleh Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab as-Salam, Bab an-Nahy ‘an Ibtida’ Ahl al-Kitab bi as-Salam, juz 4, hlm. 1707, hadis nomor 2165.

KejiSalamYahudi

Asbabun Nuzul Surat Al-Mujadalah Ayat 8 - Imam as Suyuthi : Dilarang Berbisik-Bisik Ketika Berbicara

“Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan, dia mengatakan; Dahulu ada perjanjian antara Nabi. Ketika para sahabat bertemu dengan orang-orang Yahudi, maka mereka kemudian duduk- duduk untuk berbisik-bisik di antara mereka sehingga orang mukmin menyangka bahwa mereka berbisik-bisik untuk membunuh Nabi atau untuk melakukan sesuatu yang tidak disenangi oleh Nabi. Nabi kemudian melarang berbisik-bisik tetapi mereka tidak menyudahinya. Maka Allah menurunkan ayat, “Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia.” (1) Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabarani meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Abdullah bin Amru bahwasanya orang-orang Yahudi berkata kepada Rasulullah, “Semoga keselamatan terlimpah kepadamu.” Mereka kemudian mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Maka turunlah ayat, “Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. ” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Anas dan Aisyah. (2)
1. Lihat: Ibnu Katsir (6/33) Al-Qurthubi (10/6706) menambahkan; Ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik yang saling melakukan pembicaraan rahasia di antara mereka. Mereka memandang dan mengedipkan pandangannya kepada orang- orang Mukmin. Orang-orang Mukmin kemudian berkata, “Mungkin saja mereka membicarakan saudara dan kerabat kita dari sahabat Muhajirin dan Anshar untuk dibunuh, ditimpa musibah atau diusir.” Hal ini menimbulkan buruknya prasangka sehingga orang-orang mukmin melaporkan hal itu kepada Nabi B. Beliau lalu melarang adanya pembicaraan rahasia, akan tetapi mereka tidak mempedulikannya. Maka turunlah ayat tersebut. 2. Hadits dengan sanad jayyid. Al-Haitsami (7/122) meriwayatkan dalam Al-Majma’ dan menisbatkannya kepada Ahmad serta Al-Bazzar. Ia mengatakan; sanadnya jayyid. juga, Hadits yang diriwayatkan Aisyah shahih menurut Muslim (2156) dalam Bab As-Salam. Sedangkan hadits yang diriwayatkan Anas juga shahih menurut At-Tirmidzi, 3301 dalam Bab At-Tafsir. Dia mengatakan; hadits ini hasan shahih. Lihat Ibnu Katsir (6/34) dan Al-Qurthubi (10/6708).
laranganPembicaraanrahasia

Tafsir Lengkap

Pada ayat yang lalu disebutkan bahwa tidak satu pun yang tersembunyi bagi Allah, dari bisikan sampai yang diucapkan dengan terang-terangan. Pada ayat ini dijelaskan perjanjian rahasia yang dilakukan orang-orang Yahudi di Madinah untuk menghancurkan Islam, karena mereka tidak menyadari bahwa Allah mengetahui rahasia jahat mereka. Tidakkah engkau, Muhammad, memperhatikan orang-orang, yakni kaum Yahudi di Madinah, yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia untuk memusuhi Islam, mencelakakan, dan berusaha membunuh Rasulullah, karena mereka telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslim dalam Piagam Madinah; kemudian mereka kembali mengerjakan larangan itu dengan mengabaikan kesepakatan damai tersebut; dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Mencoba memecah belah persatuan dan kesatuan kaum Ansar yang dahulunya Bani Aus dan Khazraj yang suka berperang di antara mereka. Mereka pun memancing-mancing permusuhan dengan cara berbisik-bisik sesama mereka, jika ada seorang muslim yang lewat di hadapan mereka sehingga kaum muslim merasa tidak aman jika berada di perkampungan Yahudi. Dan apabila mereka datang kepadamu Muhammad, mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu, yaitu dengan ucapan, “Mudah-mudahan kematian menimpamu wahai Abul Qasim.” Rasulullah menjawab, “Dan atas kamu juga.” Dan, setelah orang-orang Yahudi mengucapkan salam penghinaan kepada Rasulullah tersebut, mereka mengatakan pada diri mereka sendiri dengan nada menantang, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?” Kalau benar Muhammad seorang rasul, tentu Allah akan mengabulkan jawaban Muhammad, “Dan atas kamu juga,” bencana atau kematian. Benar Allah akan mengazab setiap orang yang durhaka kepada-Nya, tetapi kapan datangnya azab itu adalah kewenangan Allah. Dia akan menimpakan azab itu bila dikehendaki-Nya, namun yang pasti adalah cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki dengan kehinaan dan penderitaan abadi. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali di akhirat yang kekal selama-lamanya bagi orang-orang kafir.

Dibaca 20 kali