Surah 23Ayat 76 / 118

Al Mu'minun

Orang-Orang MukminMakkiyahJuz 18Halaman 347

وَلَقَدْ اَخَذْنٰهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوْا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُوْنَ ﴿٧٦﴾

Wa laqad akhażnāhum bil-‘ażābi famastakānū lirabbihim wa mā yataḍarra‘ūn(a).

Terjemahan

Sungguh, Kami benar-benar telah menimpakan siksaan kepada mereka,511) tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan (juga) tidak merendahkan diri.

Catatan Kaki:511) Antara lain kekalahan mereka pada Perang Badar, yang dalam peperangan itu orang-orang yang terkemuka dari mereka banyak yang terbunuh atau ditawan, dan musim kering yang menimpa mereka, sehingga mereka menderita kelaparan.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al-Mu'minun Ayat 76 - Azab Allah Akibat Kekafiran dengan Didatangkan Masa Paceklik dan Kekurangan Pangan Hebat

Ayat ini turun berkaitan dengan Abu> Sufya>n yang mengadukan kepada Nabi masa paceklik dan kekurangan pangan hebat yang menimpa penduduk Mekah. Mereka tidak menyadari kejadian itu merupakan azab Allah akibat kekafiran mereka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: لمَاَّ أُتِيَ ثُمَامَةُ ابْنُ أَثَّالٍ الحَنَفِيّ إِلَي النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْلَمَ وَهُوَ أَسِيْرٌ، فَخُلِيَ سَبِيْلُهُ، فَلَحِقَ بِالْيَمَامَة، فَحَالَ بَيْنَ أَهْلِ مَكَّةَ وَبَيْنَ المِيْرَةِ مِنَ اليَمَامَةِ، وَأَخَذَ اللهُ تَعَالَي قُرَيْشًا بِسِنِي الجَدْبِ حَتَّى أَكَلُوْا العِلْهِزَ، فَجَاءَ أَبُو سُفْيَانَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ:أَنْشُدُكَ اللهَ وَالرَّحِمَ إِنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّكَ بُعِثْتَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ؟ قَالَ: بَلَى فَقَالَ :قَدْ قَتَلْتَ الاَبَاءَ بِالسَّيْفِ وَالأَبْنَاءَ بِالْجُوْعِ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ‏:‏ (‏وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ، فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ)‏. (1) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ‏:‏ جَاءَ أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ‏:‏ يَا مُحَمَّدُ أَنْشُدُكَ اللَّهَ وَالرَّحِمَ فَقَدْ أَكَلْنَا الْعِلْهِزَ يَعْنِي الْوَبَرَ وَالدَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ‏:‏ ‏(‏وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ، فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ). (2)

Ibnu ‘Abbas bercerita, “Suatu hari seorang tawanan bernama s\umamah bin as\al al-Hanafiy dihadapkan kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menyatakan masuk Islam sehingga ia pun dibebaskan dan dibiarkan pulang ke Yamamah. Di sana ia memblokade pasokan bahan makanan yang hendak dikirim dari Yamamah ke Mekah. Akibat perbuatannya itu Allah menimpakan kepada kaum Quraisy masa paceklik dan kekurangan pangan yang memaksa mereka memakan ‘ilhiz (adonan darah dan bulu unta yang dipanggang). Abu Sufyan lalu mendatangi Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Demi Allah dan hubungan kekerabatan di antara kita, bukankah engkau mengaku diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam?’ ‘Benar,’ jawab beliau. Abu Sufyan berkata, ‘(Engkau berbohong!) Sungguh, engkau telah membunuh para ayah dengan pedang dan anak-anak dengan kelaparan.’ Sehubungan dengan kejadian ini Allah lalu menurunkan firman-Nya, wa laqad akhaz\nahum bil-‘az\abi famas-takanu lirabbihim wama yatadarra‘un.” Kisah yang sama disampaikan dengan redaksi yang lebih ringkas sebagai berikut. Ibnu ‘Abbas berkata, “Abu Sufyan mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam (di Madinah) dan mengatakan, ‘Wahai Muhammad, demi Allah dan hubungan kekerabatan di antara kita, kami (penduduk Mekah mengalami kekurangan pangan hingga kami) terpaksa memakan ‘ilhiz, yakni: adonan darah dan bulu unta.’ Allah lalu menurunkan firman-Nya, wa laqad akhaz\nahum bil-‘az\abi famas-takanu lirabbihim wama yatadarra‘un.”

(1) Hasan; diriwayatkan oleh at-Tabariy dan al-Baihaqiy. Lihat: at-Tabariy, Jami‘ al-Bayan, juz 19, hlm. 60; al-Baihaqiy, Dala’il an-Nubuwwah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1988), juz 4, hlm. 81. Al-Wahidiy juga menyebut riwayat ini dalam Asbab an-Nuzul, hlm. 324, riwayat nomor 629. Ibnu Hajar menyebut riwayat ini dan menisbatkannya kepada Ibnu Mandah. Ia menilai sanad riwayat ini hasan. Lihat: Ibnu Hajar, al-Isabah fi Tamyiz as-Sahabah, (Kairo: Markaz Hajr, cet. 1, 2008), juz 2, hlm. 85. (2) Sahih; diriwayatkan oleh an-Nasa’iy, Ibnu Hibban, at-Tabraniy, dan al-Hakim. Lihat: an-Nasa’iy, as-Sunan al-Kubra, juz 10, hlm. 194, hadis nomor 11289; Ibnu Hibban, Sahih} Ibni Hibban, juz 3, hlm. 245, hadis nomor 967; at-Tabraniy, al-Mu‘jam al-Kabir, juz 11, hlm. 370, hadis nomor 12038; al-Hakim, al-Mustadrak, juz 2, hlm. 428, hadis nomor 3488. an-Nasa’iy, Ibnu Hibban, dan at-Tabraniy meriwayatkan hadis ini melalui jalur ‘Aliy bin al-Husain bin Waqid. ‘Aliy bin al-Husain tidak sendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Ada perawi lain yang ikut meriwayatkannya—sehingga derajatnya bisa naik menjadi sahih ligairih, di antaranya ‘Aliy bin al-Hasan bin Syaqiq. Hadis melalui jalur ini misalnya diriwayatkan oleh at-Tabariy, al-Wahidiy, dan al-Hakim. Usai menyebut riwayat ini, al-Hakim menilai sanadnya sahih. az\-Z|ahabiy pun setuju dengan pendapat tersebut. Menurut Ibnu Kas\ir, pokok hadis ini disebutkan oleh al-Bukhariy dan Muslim. Diriwayatkan bahwa Rasulullah berdoa ketika kaum Quraisy membangkang dan enggan mengikuti dakwah beliau, “Ya Allah, bantulah aku dengan menurunkan kepada mereka tujuh tahun paceklik seperti yang telah Engkau timpakan kepada umat Nabi Yusuf.” Lihat: Ibnu Kas\ir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 5, hlm. 487.

PaceklikPanganYamamah

Asbabun Nuzul Surat Al-Mukminun Ayat 76 - Imam as Suyuthi : Orang-Orang Quraish Yang Memakan Bulu Dan Darah

“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan adzab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.”
An-Nasa'i dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Abu Sufyan mendatangi Nabi. Abu Sufyan berkata, “Wahai Muhammad, aku meminta tolong kepadamu atas nama Allah dan hubungan kekerabatan kita. Kami benar-benar telah makan Al-Ilhiz (bulu dan darah).” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan adzab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (1) Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Ad-Dala'il dengan menggunakan redaksi; Bahwasanya Tsumamah bin Atsal Al-Hanafi ketika dibawa ke hadapan Nabi sebagai tawanan perang, maka beliau membebaskannya. Tsumamah lalu masuk Islam lalu pergi ke Makkah. Setelah itu ia pulang ke Yamamah. Ia kemudian menghalang-halangi pengiriman bahan dari Yamamah ke Makkah, sehingga orang-orang Quraisy memakan bulu dan darah. Abu Sufyan lalu mendatangi Nabi. Dia berkata, “Bukankah engkau merasa bahwa dirimu diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam?” Beliau menjawab, “Benar.” Abu Sufyan berkata, “Engkau benar-benar telah membunuh nenek moyang dengan senjata dan membunuh anak-anak dengan rasa lapar.” Maka turunlah ayat tersebut. (2)
1. Shahih: An-Nasa'i (372) dalam Bab At-Tafsir dan Al-Hakim (2/428). Maksud Al-Ilhaz adalah sesuatu yang terbuat dari campuran daging dan bulu unta kemudian dipanaskan di atas api untuk kemudian dimakan secara bersama-sama. 2. Shahih: Al-Haitsami (7/73) meriwayatkan dalam AhMajma, di dalamnya ada perawi Ali bin Al- Husain bin Waqid yang dianggap tsicjah oleh An-Nasa'i, tetapi dianggap dha’ if oleh Abu Hatim. Ibnu Katsir menuturkan hadits ini dan mengatakan; Rasulullah S berdoa untuk kemadharatan kaum Quraisy ketika mereka menentang beliau. Beliau berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan menimpakan tujuh tahun paceklik sebagaimana tujuh tahun pacekliknya Nabi Yusuf. ” Aku (Ibu Katsir) mengatakan; Hadits tersebut ashal (dasar)nya diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4693) dalam Bab At-Tafsir, dan Muslim (2798) dalam Babfi Sifat AhQiyamah. Al-Qurthubi juga menuturkannya. Antara lain bahwasanya Tsumamah berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendatangkan kepada kalian meskipun satu butir gandum dari Yamamah.” Dalam hadits tersebut juga disebutkan; Allah menyiksa kaum Quraisy dengan paceklik dan kelaparan sehingga mereka makan bangkai, anjing, dan AhllhiZ' Lihat: Al-Qurthubi (6/4676 - 4677).
Adzabrendah dirisiksaan

Tafsir Lengkap

Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan semenjana kepada mereka, seperti penyakit, kelaparan, dan lainnya, tetapi mereka tetap tidak mau tunduk kepada Tuhannya yang telah berbuat baik kepada mereka; dan tidak juga mereka mau merendahkan diri untuk bertobat dari kedurhakaan mereka. Sehingga apabila Kami bukakan untuk mereka pintu azab yang sangat keras, saat itulah mereka bingung, takut, dan seketika itu juga mereka menjadi putus asa karena tidak menemukan jalan untuk melarikan diri.

Dibaca 14 kali