Surah 3Ayat 181 / 200

Ali Imran

Keluarga ImranMadaniyahJuz 4Halaman 74
Bahaya dan dosa membunuh NabiBahwa Allah itu miskin dan tangan-Nya terikatBani Isra'il yang banyak membunuh para Nabi

لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ﴿١٨١﴾

Laqad sami‘allāhu qaulal-lażīna qālū innallāha faqīruw wa naḥnu agniyā'(u), sanaktubu mā qālū wa qatlahumul-ambiyā'a bigairi ḥaqq(in), wa naqūlu żūqū ‘ażābal-ḥarīq(i).

Terjemahan

Sungguh, Allah benar-benar telah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka dan pembunuhan terhadap nabi-nabi yang mereka lakukan tanpa hak (alasan yang benar). Kami akan mengatakan (kepada mereka pada hari Kiamat), “Rasakanlah azab yang membakar!”

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Ali Imran Ayat 181 - Meluruskan Anggapan Kaum Yahudi bahwa Allah Fakir dan Harus Meminta Pinjaman dari Hamba-Nya

Allah menyatakan bahwa Dia akan melipatgandakan balasan bagi para hamba yang memberi-Nya pinjaman yang baik dengan cara bersedekah di jalan-Nya. Oleh kaum Yahudi hal ini disalahartikan. Mereka menganggap Tuhan kaum muslim fakir sehingga harus meminta pinjaman dari hambaNya. Ayat ini lantas turun untuk meluruskan anggapan tersebut

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا لمَاَّ نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفُهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيْرَةً ) قَالَتِ الْيَهُوْدُ: يَا مُحَمَّدُ، أَافْتَقَرَ رُبُّكَ فَسَأَلَ عِبَادَهُ الْقَرْضَ؟ فَأَنْزَلَ اللهُ: (لَقَدْ سَمِعَ الله قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ الله فَقِيْرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيآءُ). (1) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ :دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ رَضِيَ الله عَنْهُ بَيْتَ الْمِدْرَاسِ، فَوَجَدَ مِنْ يَهُوْدَ نَاسًا كَثِيْرًا قَدِ اجْتَمَعُوْا عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ أَشْيَعُ، فَقَالَ لَهُ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: وَيْحَكَ يَا فَنْحَاصُ، اِتَّقِ اللهَ وَأَسْلِمْ، فَوَاللهِ لَتَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلٌ مِنْ عِنْدِ الله قَدْ جَاءَكُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِهِ، وَتَجِدُوْنَهُ مَكْتُوْبًا عِنْدَكُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ. فَقَالَ فَنْحَاصُ: وَاللهِ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا بِنَا إِلىَ اللهِ مِنْ حَاجَةٍ مِنْ فَقْرٍ، وَإِنَّهُ إِلَيْنَا لَفَقِيْرٌ، وَمَا نَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ كَمَا يَتَضَرَّعُ إِلَيْنَا، وَإِنَّا عَنْهُ لَأَغْنِيَاءُ، وَلَوْ كَانَ عَنَّا غَنِيًّا مَا اسْتَقْرَضَ مِنَّا كَمَا يَزْعُمُ صَاحِبُكُمْ، يَنْهَاكُمْ عَنِ الرِّبَا وَيُعْطِيْنَاهُ، وَلَوْ كَانَ عَنَّا غَنِيًّا مَا أَعْطَانَا الرِّبَا. فَغَضِبَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ، فَضَرَبَ وَجْهَ فَنْحَاصَ ضَرْبًا شَدِيْدًا، وَقَالَ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْلَا الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مِنَ الْعَهْدِ لَضَرَبْتُ عُنُقَكَ يَا عَدُوَّ اللهِ، فَأَكْذِبُوْنَا مَا اسْتَطَعْتُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. فَذَهَبَ فَنْحَاصُ فَأَخْبَرَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَبْصِرْ مَا صَنَعَ بِيْ صَاحِبُكَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى هَذَا يَا أَبَا بَكْرٍ؟ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله إِنَّ عَدُوَّ اللهِ قَالَ قَوْلاً عَظِيْمًا، يَزْعُمُ أَنَّ اللهَ فَقِيْرٌ وَأَنَّهُمْ عَنْهُ أَغْنِيَاءُ، فَلَمَّا قَالَ ذَلِكَ غَضِبْتُ لِلَّهِ مِمَّا قَالَ فَضَرَبْتُ وَجْهَهُ. فَجَحَدَ فَنْحَاصُ ذَلِكَ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَبَارَك َوَتَعَالَى فِيْمَا قَالَ فَنْحَاصُ: (لَقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الّذِينَ قالُوا إنّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنحْنُ أغنِياءُ سَنَكْتُبُ ما قالُوا وَقَتْلَهُمُ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الحَرِيقِ). (2)

Ibnu ‘Abbas radiyallahu 'anhuma berkata, “Ketika turun firman Allah, man z\al-laz\i yuqridullaha qardan hasanan fayuda‘ifahu lahu ad‘afan kas\irah, kaum Yahudi berkata, ‘Wahai Muhammad, apakah Tuhanmu fakir sehingga Ia harus berutang kepada para hamba-Nya?’ Allah lalu menurunkan ayat, laqad sami‘allahu qaulal-laz\ina qalu innallaha faqirun wanahnu agniya’.” Ada pula riwayat lain yang disinyalir menjadi sebab nuzul ayat ini, yaitu: Ibnu ‘Abbas berkata, “Abu Bakr masuk ke Bait al-Midras (pusat belajar mengajar Taurat kaum Yahudi). Di sana ia menjumpai beberapa orang Yahudi sedang berkumpul di sekeliling pemuka dan rahib mereka, Fanhas. Bersamanya duduk seorang rahib lainnya bernama Asyya‘. Abu Bakr berkata, ‘Celakalah engkau, Fanhas! Takutlah kepada Allah dan masuk Islamlah! Demi Allah, engkau pasti sudah tahu Muhammad adalah rasul yang Allah utus dengan membawa kebenaran dari sisi-Nya. Kalian juga telah mendapati namanya tertulis dalam Taurat dan Injil.’ Fanhas menjawab, ‘Demi Allah, wahai Abu Bakr, kami bukanlah orang-orang miskin sehingga kami sama sekali tidak membutuhkan Allah. Dialah yang sesungguhnya membutuhkan kami. Kami tidak merendahkan diri kepada-Nya, melainkan Dialah merendahkan diri kepada kami. Kami benar-benar tidak membutuhkan-Nya. Bila tidak membutuhkan kami, tentu Dia tidak akan meminta pinjaman dari kami seperti kata sahabatmu, Muhammad. Dia melarang kalian berbuat riba, namun Dia malah memberi kami riba. Seandainya Dia kaya, tentu Dia tidak akan memberi kami riba.’ Abu Bakr marah mendengarnya. Dia menampar keras-keras muka Fanhas sambil berkata, ‘Demi Tuhan yang menggenggam jiwaku, seandainya di antara kita tidak ada perjanjian damai, tentu sudah kupenggal kepalamu, wahai musuh Allah! Dustakanlah kami semampu kalian jika kalian orang-orang yang benar!’ Fanhas bergegas mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadu, ‘Wahai Muhammad, lihatlah apa yang telah sahabatmu perbuat kepadaku.’ Rasulullah bertanya, ‘Mengapa engkau berbuat demikian, wahai Abu Bakr?’ ‘Wahai Rasulullah, musuh Allah ini telah berkata lancang. Dia menganggap Allah fakir dan mereka (orang Yahudi) kaya. Tentu saja aku marah (karena Allah) mendengar perkataan itu sehingga aku tampar wajahnya,’ jawab Abu Bakr. Fanhas menyanggah keterangan Abu Bakar, lalu Allah menurunkan ayat berikut untuk menanggapi sanggahan Fanhas, laqad sami‘allahu qaulal-laz\ina qalu innallaha faqirun wanahnu agniya’.”

(1) Hasan; diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan diya’uddin al-Maqdisiy. Lihat: Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 2, hlm. 460, hadis nomor 2429; Diya’uddin al-Maqdisiy, al-Ahadis\ al-Mukhtarah, (Beirut: Dar Khadr, cet. 3, 2000), juz 10, hlm. 112–113, hadis nomor 110. Dilihat dari sanadnya hadis ini daif, namun derajatnya bisa merangkak menjadi hasan ligairih berkat adanya hadis senada dari jalur lain, misalnya hadis yang disebutkan oleh at-Tabariy dari jalur Hasan al-Basriy dan Qatadah, demikian juga hadis dari Ibnu ‘Abbas berikut. Lihat: at-Tabariy, Jami‘ al-Bayan, juz 6, hlm. 280. (2) Hasan; diriwayatkan oleh at-Tabariy dan Ibnu Abi Hatim. Ahmad Syakir menilai sanad hadis ini jayyid atau sahih. Lihat: at-Tabariy, Jami‘ul-Bayan, juz 6, hlm. 278–279; Ibnu Abi Hatim, Tafsirul-Qur’an al-‘Azim, juz 3, hlm. 828–829; Ahmad Syakir, ‘Umdatut-Tafsir, (Mansurah: Darul-Wafa’, cet. 2, 2005), juz 1, hlm. 444–445.

HutangSedekahYahudi

Asbabun Nuzul Surat Ali Imran Ayat 181 - Imam as Suyuthi : Orang Yahudi Mengatakan Allah Miskin Kepada Abu Bakar

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakan olehmu adzab yang membakar."
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas berkata, “Abu Bakar masuk ke dalam Baitul Madaris, di dalamnya ia mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berkumpul kepada seorang Yahudi yang bernama Fanhas, kemudian ia berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya kami tidak ada yang miskin dan Allah itu miskin, jika saja Allah itu kaya (tidak membutuhkan kami), maka ia tidak akan meminta pinjaman seperti apa yang diyakini oleh sahabatmu (Muhammad)”, mendengar perkataan tersebut, Abu Bakar sangat marah dan langsung menampar wajahnya. Kemudian Fanhas pergi menuju Rasulullah sB dan berkata kepada beliau, “Wahai Muhammad, lihat apa yang telah dilakukan oleh sahabatmu ini kepadaku”, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, ia telah mengucapkan kata-kata yang sangat keji, ia meyakini bahwa Allah itu miskin, dan mereka adalah orang-orang yang kaya”, akan tetapi Fanhas tidak mengakuinya, maka turunlah firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang.... " (1) Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas H berkata: “orang-orang Yahudi datang menemui Rasulullah ketika turun firman Allah, “Siapakah yang ingin memberi pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah)...." mereka berkata, “Wahai Muhammad, apakah Tuhanmu itu miskin hingga ia harus meminta kepada hambanya?” maka turunlah firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin..." (2)
1. Al-Qurthubi berkata (2/1635): “Ia adalah Fanhas bin ‘Azura, dan ia bersama dengan Huyay bin Akhtab”, ia menisbahkan riwayat ini kepada Hasan Al-Bashri dan Ikrimah. Ibnu Jarir dalam Tafsir- nya (4/129) menisbahkannya kepada Ibnu Abbas secara Maucjuf. Dan begitu juga diriwayatkan oleh Ibnu katsir (1/574) dengan riwayat yang panjang. 2. Lihat Ibnu Katsir dalam riwayat sebelumnya.
Abu BakarAllah MiskinYahudi

Tafsir Lengkap

Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.” Orang-orang Yahudi beranggapan bahwa perintah berinfak di jalan Allah atau bersedekah untuk kepentingan sosial menunjukkan bahwa Allah miskin sehingga butuh pinjaman harta dari manusia. Seandainya Allah kaya, menurut mereka, niscaya Allah tidak menyuruh untuk berinfak dan bersedekah. Ucapan mereka kemudian dijawab oleh Allah. Kami akan mencatat perkataan mereka yang sangat buruk dengan berbagai tuduhan yang dilontarkan kepada Allah dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa hak alasan yang benar lantaran para utusan Allah tersebut menyampaikan ajaran-ajaran Allah, dan Kami akan mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah olehmu azab yang membakar!” Itu adalah akibat harta yang mereka timbun untuk kepentingan diri sendiri dan tidak mereka sedekahkan.

Dibaca 16 kali