Surah 4Ayat 77 / 176

An Nisaa

PerempuanMadaniyahJuz 5Halaman 90
Perintah Melaksanakan shalatPerintah ZakatPerintah dan Pelaksanaan Zakat yang digandengkan dengan shalatPerintah untuk melihatSimbol pekerjaan/amalanAkhirat itu lebih baik

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةًۚ وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ لَوْلَآ اَخَّرْتَنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا ﴿٧٧﴾

Alam tara ilal-lażīna qīla lahum kuffū aidiyakum wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāt(a), fa lammā kutiba ‘alaihimul-qitālu iżā farīqum minhum yakhsyaunan-nāsa kakhasy-yatillāhi au asyadda khasy-yah(tan), wa qālū rabbanā lima katabta ‘alainal-qitāl(a), lau lā akhkhartanā ilā ajalin qarīb(in), qul matā‘ud-dun-yā qalīl(un), wal-ākhiratu khairul limanittaqā, wa lā tuẓlamūna fatīlā(n).

Terjemahan

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), tegakkanlah salat, dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba segolongan mereka (munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih takut daripada itu. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.”

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 77 - Berperang adalah Sesuatu yang tidak Disukai, Namun dalam Situasi Tertentu, Berperang dapat Menjadi Kebaikan Bagi Umat Islam

Beberapa sahabat bertanya kepada Nabi mengapa Allah tidak memerintah mereka berperang melawan kaum musyrik, justru meminta mereka menahan diri dan lebih mementingkan salat dan zakat. Ketika izin berperang untuk mempertahankan diri itu akhirnya datang, sebagian dari mereka justru ketakutan melihat kekuatan lawan. Ayat ini turun terkait peristiwa tersebut.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَأَصْحَابًا لَهُ أَتَوُا النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بِمَكَّةَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي عِزٍّ وَنَحْنُ مُشْرِكُونَ، فَلَمَّا آمَنَّا صِرْنَا أَذِلَّةً‏.‏ فَقَالَ:‏ إِنِّي أُمِرْتُ بِالْعَفْوِ فَلاَ تُقَاتِلُوا، فَلَمَّا حَوَّلَنَا اللَّهُ إِلَى الْمَدِينَةِ أَمَرَنَا بِالْقِتَالِ فَكَفُّوْا فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ). (1)

Ibnu ‘Abbas bercerita bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan beberapa temannya menghadap Nabi di Mekah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, ketika masih musyrik kami adalah orang-orang yang gagah berani, namun begitu beriman, kami menjadi orang-orang yang lemah—dihinakan.” Beliau bersabda, “Allah memintaku untuk memberi maaf (atas perlakuan buruk kaum musyrik), jadi janganlah kalian berperang. “Kemudian ketika Allah memindahkan kami (kaum mukmin) ke Madinah, Dia memerintah kami berperang, namun ternyata mereka (sebagian kaum mukmin) justru enggan berperang. Allah ‘azza wajalla lalu menurunkan firman-Nya, alam tara ilal-laz\ina qila lahum kuffu aidiyakum wa’aqimus-salah. (1)

(1) Sahih; diriwayatkan oleh an-Nasa’iy, al-Hakim, al-Baihaqiy, Ibnu Abi Hatim, at-Tabariy, dan al-Wahidiy. Al-Hakim dua kali menyebutkan hadis ini dan menilai keduanya sahih menurut syarat al-Bukhariy; dan az\-Z|ahabiy pun setuju dengannya. Lihat: an-Nasa’iy, as-Sunan as-Sugra, dalam Kitab al-Jihad, Bab Wujub al-Jihad, hlm. 327, hadis nomor 3086; as-Sunan al-Kubra, dalam Kitab al-Jihad, Bab Wujub al-Jihad, juz 4, hlm. 254–265, hadis nomor 4279; al-Hakim, al-Mustadrak, dalam Kitab al-Jihad, juz 2, hlm. 76, hadis nomor 2377 dan dalam Kitab at-Tafsir, juz 2, hlm. 336, hadis nomor 3200; al-Baihaqiy, as-Sunan al-Kubra, dalam Kitab as-Sair, Bab Ma Ja’ fi Naskh al-‘Afw ‘an al-Musyrikin, juz 9, hlm. 19, hadis nomor 17741; Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 3, hlm. 1005, hadis nomor 5630; at-Tabariy, Jami‘ al-Bayan, juz 7, hlm. 231; al-Wahidiy, Asbab Nuzul al-Qur’an, hlm. 170–171, riwayat nomor 329.

MusyrikPerangTakut

Asbabun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 77 - Imam as Suyuthi : Orang-Orang Munafik Yang Ketakutan Ketika Mendengar Berita Perang

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat! ” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami berperang beberapa waktu lagi?" katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.”
An-Nasa’i dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Abdurrahman bin Auf dan para sahabatnya datang menghadap Nabi dan berkata, “wahai Nabi Allah, dahulu ketika kami masih musyrik kepada Allah, kami adalah orang-orang yang mulia, dan ketika kami beriman kepada Allah kami menjadi orang-orang yang terhina”, Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk selalu memaafkan, oleh karena itu janganlah kalian memerangi suatu kaum," ketika Allah memerintahkan mereka berhijrah ke kota Madinah, mereka diperitahkan untuk berperang, akan tetapi mereka menolak. Maka turunlah firman Allah, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang)... ” (1)
1. Shahih: diriwayatkan oleh An-Nasa’i (132) dalam Bab AuTafsir, dan dalam kitab Ash'Shugra (3086). Ibnu Katsir berkata (1/694): Muhahid berkata, “Sesungguhnya ayat-ayat ini turun pada orang-orang Yahudi.” Al-Qurthubi berkata (2/1944): As-Suddi berkata, “Mereka adalah sekelompok orang yang masuk Islam sebelum turun perintah untuk berperang, maka ketika turun perintah untuk berperang, mereka enggan untuk melaksanakannya.” Ada juga yang mengatakan bahwasanya ayat ini menceritakan perihal orang-orang munafik.
KetakutanMunafikPerang

Tafsir Lengkap

Ayat-ayat yang lalu menggambarkan dua motivasi perang dan dua kelompok pada masing-masing motivasi itu. Ayat-ayat berikut menggambarkan fenomena yang ada di sebagian kelompok orang beriman yang enggan diajak berperang. Tidakkah engkau memperhatikan, wahai kaum beriman, orang-orang yang dikatakan kepada mereka, yakni orangorang yang menampakkan dirinya beriman dan minta izin berperang sebelum ada perintah berperang? Dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu dari berperang karena belum waktunya, laksanakanlah salat guna membangun hubungan dengan Allah, dan tunaikanlah zakat untuk membangun hubungan dengan sesama!” Ketika situasi telah menuntut untuk melakukan perang karena kaum muslim bertambah teraniaya, maka mereka pun diwajibkan untuk berperang, tiba-tiba sebagian mereka golongan munafik yang telah hidup nyaman pada waktu turunnya ayat ini, takut kepada manusia sebagai musuh yakni orang-orang kafir seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dahsyat lagi takut dari itu. Dalam kondisi dihantui oleh rasa takut menghadapi musuh dan takut kehilangan kesenangan yang sudah diperoleh, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, padahal kami belum terlepas dari kesulitan hidup? Mengapa tidak Engkau tunda kewajiban berperang itu kepada kami beberapa waktu lagi, agar kami dapat merasakan kesenangan ini lebih lama lagi?” Katakanlah, “Berapa lama pun kesenangan yang kalian dapatkan di dunia ini tidak ada artinya, karena kesenangan dunia itu hanya sedikit, dan kesenangan akhirat itu lebih baik karena banyak dan beraneka ragam, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa mendapat pahala turut berperang dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun baik di dunia maupun di akhirat.”

Dibaca 20 kali