Sebelum Perang Uhud terjadi, sebagian pasukan muslim kembali ke Madinah karena takut melihat kekuatan musuh dan termakan hasutan ‘Abdullah bin Ubay. Sebagian sahabat bersikeras menumpas mereka, namun sebagian lainnya ingin agar mereka dibiarkan. Untuk meredakan perselisihan itulah ayat ini diturunkan
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضى الله عنه قَالَ: لَمَّا خَرَجَ رَسولُ الله صلى الله عليه وسلم إِلَى أُحُدٍ خَرَجَ مَعَهُ نَاسٌ فَرَجَعُوْا، قَالَ: فَكَانَ أَصْحَابُ رَسولِ صلى الله عليه وسلم فِيْهِمْ فِرْقَتَيْنِ، قَالَتْ فِرْقَةٌ: نَقْتُلُهُمْ، وَفِرْقَةٌ قَالَتْ: لاَ نَقْتُلُهُمْ، فَنَزَلَتْ: (فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا). (1)
Zaid bin s\abit berkata, “Ketika Rasulullah berangkat ke Bukit Uhud untuk berperang, banyak pasukan yang pergi bersamanya, namun sebagian dari mereka kembali ke Madinah karena hasutan kaum munafik. Dalam menyikapi hal ini para sahabat terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengatakan, ‘Kita bunuh saja mereka.’ Kelompok lainnya berkata, ‘Jangan, kita tidak boleh membunuh mereka.’ Berkaitan dengan hal ini Allah lalu menurunkan ayat, fama lakum fil-munafiqina fi’ataini wallahu arkasahum bima kasabu.” (1)
(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim. Lihat: al-Bukhariy, Sahih} al-al-Bukhariy, dalam Kitab Fada’il al-Madinah, Bab al-Madinah Tanfi al-Khabas\, hlm. 453, hadis nomor 1884; dalam Kitab al-Magazi, Bab Gazwah Uhud, hlm.995, hadis nomor 4050; dalam Kitab at-Tafsir, Bab fa ma lakum fi al-Munafiqin Fi’atain, hlm. 1129, hadis nomor 4589; Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab hifat al-Munafiqin, hlm. 2142, hadis nomor 2776.
HasutanTumpasUhud
Asbabun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 88 - Imam as Suyuthi : Dua Kubu Yang Memperdebatkan Orang-Orang Munafik
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri! Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah! Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.”
Al-Bukhari, Muslim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa saat Rasulullah S pergi ke Uhud untuk berperang, beberapa orang yang ada dalam rombongannya kembali ke Madinah. Para sahabat Nabi yang menyaksikan hal itu terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengatakan, “Kita bunuh saja mereka yang kembali itu,” Sedangkan satu kelompok lagi berkata: “Tidak, kita tidak akan membunuh mereka.” Maka turun firman-Nya, “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik... ” (1) Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Hatim bahwa Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Pada suatu hari Rasulullah S berpidato dan bersabda, “Siapakah yang membelaku dari orang yang menyakitiku dan mengumpulkan di rumahnya orang yang menyakitiku!” Sa’ad bin Mu’adz menyahut, “Jika
ia dari Aus, maka kami segera membunuhnya. Jika ia dari saudara-saudara kami dari Khazraj, maka perintahkanlah kepada kami apa yang harus kami lakukan, dan kami akan menunaikannya.” Lalu Sa’ad bin Ubadah bangkit dan berkata, “Bagaimana denganmu wahai Ibnu Mu’azd, engkau taat kepada Rasulullah, akan tetapi engkau tahu bahwa ia dari kaummu.” Maka berdirilah Usaid bin Hudhair dan berkata, “Sesungguhnya Kau benar- benar wahai Ibnu Ubadah seorang munafik dan kau mencintai orang-orang munafik.”
Lalu Muhammad bin Maslamah pun berdiri dan berkata, “Diamlah kalian. Di antara kita ada Rasulullah S, beliau yang akan menyampaikan perintahnya kepada kita dan kita melaksanakannya.” Lalu turunlah firman Allah, “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik.. .” (2) Ahmad meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf bahwa beberapa orang Arab mendatangi Nabi & di Madinah. Lalu mereka masuk Islam. Lalu mereka terjangkit waba’ dan demam Madinah. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Madinah dan ketika di jalan bertemu dengan beberapa orang sahabat. Para sahabat tersebut bertanya, “Mengapa kalian kembali?” Mereka menjawab, “Kami terjangkit waba’ Madinah.” Para sahabat itu berkata lagi, “Bukankah kalian mempunyai teladan yang baik pada Rasulullah?” Sebagian dari para sahabat itu mengatakan, “Orang-orang Arab ini adalah orang- orang munafik.” Dan sebagian yang lainnya mengatakan, “Mereka bukan munafik.” Lalu turunlah firman Allah, “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik...” hingga akhir ayat. ”Di dalam sanad riwayat ini terjadi tadlis dan keterputusan (munqati’). (3)
1. Shahih: Al-Bukhari (1884) dalam Bab Al-Hajj, Muslim (2776) dalam Bab Shifat Al-Munafiqin.
Al-Qurthubi berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi”, dan ia menambahkan bahwasanya hal tersebut adalah kebaikan yang menghapus keburukan seperti api yang membakar besi (2/1968).
2. Ibnu Katsir berkata (1/703) hadits ini gharib. Ada juga yang mengatakan hadits ini tidak termasuk hadits gharib.
3. Diseebutkan oleh Al-Qurthubi (2/1968) dan hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (15/192) dalam musnad-nya dari jalur Ibnu Ishaq dan ia adalah seorang mudallis, dan Ibnu Ishaq yang menyebutkan jalurnya, dan iadha’if, lihat Al-Majma’ (7/7).
GolongankafirMunafik