Surah 42Ayat 27 / 53

Asy Syuura

MusyawarahMakkiyahJuz 25Halaman 486
Maha Pemberi RizkiKekayaan penyebab orang melampaui batasKata-kata Bumi dalam al-Qur'an

۞ وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ ﴿٢٧﴾

Wa lau basaṭallāhur rizqa li‘ibādihī labagau fil-arḍi wa lākiy yunazzilu biqadarim mā yasyā'(u), innahū bi‘ibādihī khabīrum baṣīr(un).

Terjemahan

Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Mahateliti lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat As-Syura Ayat 27 - Penegaskan Bahwa Allah Memberikan Rezeki kepada Setiap Orang sesuai dengan Kehendak-Nya

Ayat ini turun sebagai tanggapan terhadap angan-angan Ahlus Suffah, yaitu orang-orang miskin yang tinggal di Masjid Nabawi, agar mereka diberi rezeki yang berlimpah ruah. Allah menegaskan bahwa Dia memberikan rezeki kepada setiap orang sesuai dengan kehendak-Nya.

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: مَا أَصْبَحَ بِالْكُوفَةِ أَحَدٌ إِلَّا نَاعِمٌ، إِنَّ أَدْنَاهُمْ مَنْزِلَةً يَشْرَبُ مِنْ مَاءِ الْفُرَاتِ، وَيَجْلِسُ فِي الظِّلِّ، وَيَأْكُلُ مِنَ الْبِرِّ، وَإِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي أَهْلِ الصُّفَّةِ: (وَلَوْ بَسَطَ اللهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ) وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ قَالُوا: لَوْ أَنَّ لَنَا، فَتَمَنَوُا الدُّنْيَا. (1)

Aliy bin Abi Talib berkata, “Semua penduduk Kufah hidup dengan nyaman dan sejahtera. Betapa tidak; orang paling miskin di antara mereka saja minum dari Sungai Efrat (yang sangat jernih), tinggal di tempat yang teduh (nyaman), dan mengonsumsi makanan berbahan gandum. Sungguh firman Allah, walau basatallahur-rizqa li‘ibadihi labagau fil-ardi walakin yunazzilu biqadarin ma yasya’ turun terkait Ahlussuffah—bukan terkait penduduk Kufah. Ketika itu mereka berandai-andai menjadi orang kaya dan mempunyai harta yang berlimpah.’”

(1) Sahih; diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqiy. al-Hakim menilai sanad hadis ini sahih, sedangkan az\-Z|ahabiy mengatakan bahwa hadis ini sahih sesuai syarat al-Bukhariy dan Muslim. Mukhtar Ahmad an-Nadawiy dalam tahqiq-nya atas Syu‘ab al-I

EfratKufahNabawi

Asbabun Nuzul Surat Asy-Syura Ayat 27 - Imam as Suyuthi : Allah Akan Memberi Apa Yang Dibutuhkan Bukan Yang Diinginkan

“Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yangdikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat."
Al-Hakim meriwayatkan dan menshahihkannya dari Ali, ia mengatakan; Ayat ini turun berkaitan dengan Ashab Ash-Shuffah, “Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi,” Hal tersebut dikarenakan mereka mengatakan; Seandainya boleh kami meminta, maka kami akan meminta dunia. (1) Ath-Thabarani meriwayatkan dari Amru bin Huraits hadits yang serupa. (2)
1. Shahih: Al-Hakim (2/483) mengatakan; Sanadnya shahih dan keduanya tidak meriwayatkannya. Al-Qurthubi mengatakan; Sesungguhnya ayat itu turun berkenaan dengan sekelompok orang dari Ahli Ash-Shuffah yang berharap mendapatkan keluasan dalam rezeki. Khabab bin Al-Art mengatakan; ayat itu turun berkenaan dengan kita. Kami melihat harta-harta yang dimiliki Bani An-Nadhir, Bani Quraizha,h dan Bani Qainuqa’, maka kami mengharapkan itu. 2. Hadits shahih. Al-Haitsami meriwayatkan dalam Al-Majma’ (7/104) dan dinisbatkan kepada Ath-Thabarani. Ia mengatakan, para perawinya adalah perawi yang shahih.
melampaui batasRezekiujian

Tafsir Lengkap

Selain itu, kemurahan Allah adalah di bentangkannya rezeki bagi hamba-hamba-Nya. Allah menyatakan bahwa sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai kenikmatan dan anugerah, baik yang bersifat materi maupun non-materi niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di muka bumi dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran Allah dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Ini sudah menjadi tabiat manusia pada umumnya. Dan tetapi Dia menurunkan rezeki-rezeki-Nya dengan ukuran tertentu yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti tentang hal-hal yang mendetail terhadap semua keadaan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat terhadap apa yang mereka lakukan dan terima.

Dibaca 23 kali