Surah 9Ayat 74 / 129

At Taubah

PengampunanMadaniyahJuz 10Halaman 199
Peringatan bagi kaum munafikKata-kata Bumi dalam al-Qur'an

يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ مَا قَالُوْاۗ وَلَقَدْ قَالُوْا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوْا بَعْدَ اِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوْا بِمَا لَمْ يَنَالُوْاۚ وَمَا نَقَمُوْٓا اِلَّآ اَنْ اَغْنٰىهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَاِنْ يَّتُوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَّهُمْۚ وَاِنْ يَّتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ عَذَابًا اَلِيْمًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ وَمَا لَهُمْ فِى الْاَرْضِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ ﴿٧٤﴾

Yaḥlifūna billāhi mā qālū, wa laqad qālū kalimatal-kufri wa kafarū ba‘da islāmihim wa hammū bimā lam yanālū, wa mā naqamū illā an agnāhumullāhu wa rasūluhū min faḍlih(ī), fa iy yatūbū yaku khairal lahum, wa iy yatawallau yu‘ażżibhumullāhu ‘ażāban alīman fid-dun-yā wal-ākhirah(ti), wa mā lahum fil-arḍi miw waliyyiw wa lā naṣīr(in).

Terjemahan

Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Nabi Muhammad). Sungguh, mereka benar-benar telah mengucapkan perkataan kekafiran (dengan mencela Nabi Muhammad) dan (karenanya) menjadi kafir setelah berislam. Mereka menginginkan apa yang tidak dapat mereka capai.329) Mereka tidak mencela melainkan karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka, jika mereka bertobat, itu lebih baik bagi mereka. Jika berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.

Catatan Kaki:329) Mereka ingin membunuh Nabi Muhammad saw.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat At-Taubah Ayat 74 - Sifat-Sifat Orang Munafik

Pada Perang Tabuk, Rasulullah mencela orang-orang munafik yang bermalas-malasan untuk ikut serta dalam perang. Merasa sakit hati, mereka berbalik menuduh Nabi sebagai pendusta. Mengetahui hal tersebut, beliau meminta penjelasan dari mereka, namun ternyata mereka mengingkari. Kejadian inilah yang melatarbelakangi turunnya ayat di atas.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسًا فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ، فَقَالَ: (إنَّهُ سَيَأْتِيكُمْ إنْسَانٌ فَيَنْظُرُ إلَيْكُمْ بِعَيْنَيْ شَيْطَانٍ، فَإِذَا جَاءَ فَلا تُكَلِّمُوْهُ. فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ طَلَعَ رَجُلٌ أَزْرَقُ، فَدَعَاهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: (عَلاَمَ تَشْتُمُنِيْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ ؟) فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ فَجَاءَ بِأَصْحَابِهِ، فَحَلَفُوْا بِاللهِ مَا قَالُوْا وَمَا فَعَلُوْا، حَتَّى تَجَاوَزَ عَنْهُمْ، فَأَنْزَلَ اللهُ :(يَحْلِفُوْنَ بِاللَّهِ مَا قَالُوْا) ثُمَّ نَعَتَهُمْ جَمِيْعًا، إِلَى آخِرِ الآيَةِ. (1)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Suatu hari (pada Perang Tabuk) Rasulullah duduk-duduk di bawah pohon. Beliau bersabda, ‘Sungguh, sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang pria yang memandang kalian dengan mata (pandangan) setan. Bila ia datang, janganlah kalian mengajaknya bicara.’ Tidak lama muncullah seorang pria (bermata) biru. Rasulullah menegur dan menanyainya, ‘Atas hal apa engkau dan kawan-kawanmu menghujatku?’ Tanpa menjawab, pria itu lantas berlalu dan beberapa saat kemudian datang kembali bersama kawan-kawannya. Mereka lalu bersumpah demi Allah tidak pernah mencaci dan menghujat beliau. Rasulullah kemudian meninggalkan mereka, lalu Allah menurunkan ayat, yahlifuna billahi ma qalu … Allah menjelaskan sifat-sifat mereka hingga akhir ayat ini."

(1) Sahih; diriwayatkan oleh at-Tabariy dari Ayyub bin Ishaq bin Ibrahim dari ‘Abdullah bin Raja’ dari Isra’il dari Simak dari Sa‘id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Lihat: at-Tabariy, Jami‘ al-Bayan, tahqiq Mahmud Muhammad Syakir, juz 14, hlm. 363. Mahmud Muhammad Syakir menilai sanad riwayat ini sahih, sedangkan Muqbil bin Hadi al-Wadi‘iy, meski tidak menyebut status riwayat ini dengan tegas, namun ia cenderung menilai sanad hadis ini dapat diterima. Lihat: Muqbil bin Hadi al-Wadi‘iy, as-Sahih al-Musnad min Asbab an-Nuzul, hlm. 123–124. Sebetulnya ada riwayat lain, yang juga dapat diterima, yang mengaitkan turunnya ayat di atas dengan Julas bin Suwaid bin Samit, salah seorang munafik yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk, yang menuduh Rasulullah sebagai pendusta. Lihat: Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 6, hlm. 1843, hadis nomor 10402. Meski secara lahiriah berbeda, namun kedua riwayat ini dapat disatukan. Pada ayat ini Allah mengabarkan bagaimana kaum munafik bersumpah palsu atas nama Allah bahwa mereka tidak menghujat Rasulullah, padahal sejatinya mereka memang melakukannya. Bisa jadi yang menghujat adalah pria yang disebutkan dalam riwayat di atas, Julas bin Suwaid bin hamit, atau bahkan orang Yahudi yang lain.

 

CelaHujatSetan

Asbabun Nuzul Surat At-Taubah Ayat 74 - Imam as Suyuthi : Orang Orang Munafik Yang Tidak Mau Ikut Perang Dan Menghina-Hina Nabi

“Mereka (orang-orangmunafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Bahwa dahulu Al-Julas bin Suwaid bin Shamit merupakan salah seorang yang tidak mengikuti Rasulullah dalam Perang Tabuk. Ia berkata, “Seandainya orang ini benar, sungguh kita lebih buruk daripada keledai.” Ucapan itu dilaporkan oleh Umair bin Sa’ad kepada Rasulullah, akan tetapi ia (Al-Julas) bersumpah bahwa ia tidak berkata demikian. Maka Allah menurunkan firma-Nya, “Mereka (orang'orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah...” Dituturkan bahwa kemudian ia bertaubat dan menjadi orang baik-baik.” Lalu ia meriwayatkan hal serupa dari Ka’ab bin Malik. Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat, meriwayatkan hal serupa dari Urwah. (1) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya Zaid bin Arqam mendengar seorang munafik berkata ketika Nabi sedang berkhutbah, “Kalau orang ini benar, sungguh kita lebih buruk daripada keledai!” Ia lalu menyampaikan hal itu kepada Nabi, tapi orang tersebut menyangkal. Maka Allah menurunkan ayat, “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah. ..” (2) Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ketika itu Rasulullah sedang duduk di bawah pohon. Beliau bersabda, “Sebentar lagi akan datang seorang yang memandang dengan pandangan mata setan.” Tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian biru. Rasulullah memanggilnya dan bertanya, “Mengapa kamu dan kawan-kawanmu mencaciku?” Orang itu segera pergi dan mengajak kawan-kawannya, lalu mereka bersumpah bahwa mereka tidak berkata begitu, hingga akhirnya beliau melepaskan mereka. Lalu Allah menurunkan ayat, “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah...” (3) Ia meriwayatkan dari Qatadah bahwasanya ada dua orang yang saling berkelahi, salah satunya dari Juhainah sedang yang lain dari Ghifar. Kebetulan suku Juhainah adalah sekutu kaum Anshar. Abdullah bin Ubay berkata kepada suku Aus, “Bantulah saudara kalian! Demi Allah, perumpamaan antara kita dan Muhammad tidak lain seperti kata pepatah, “Gemukkan anjingmu, pasti ia memangsamu!” Seorang dari kaum Muslimin pergi melaporkan ucapannya itu kepada Nabi Beliau lalu memanggilnya dan bertanya kepadanya akan hal tersebut. Akan tetapi ia bersumpah bahwa ia tidak mengatakan demikian. Maka Allah menurunkan ayat-Nya, “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah.. .” (4). Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya seorang lelaki yang bernama Al-Aswad berniat membunuh Nabi maka turunlah firman Allah, “Dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya.. .” (5) Ibnu Jarir dan Abu Asy-Syaikh meriwayatkan dari Ikrimah bahwa bekas budak Bani Adi bin Ka’ab membunuh seorang pria Anshar, lalu Nabi memutuskan diyatnya sebesar 12.000. Mengenai kejadian inilah turun ayat, “Dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia'Nya kepada mereka.” (6)
1. Al-Qurthubi menyebutkan riwayat ini dan bahwasanya yang berkata adalah Julas bin Suwaid bin Shamit dan Wadi’ah Ibnu Tsabit, dan yang mendengarkan ucapan mereka adalah Amir bin Qais. Al-Qurthubi menisbahkannya kepada As-Suddi. Ada yang mengatakan bahwasanya yang mendegar ucapannya adalah Ashim bin Adi, dan ada yang juga yang berpendapat bahwasanya yang mendengar adalah Khuzaifah dan Al-Qurthubi berkata bahwasanya ia adalah Umair bin Sa’ad, anak dari istri Julas. 2. Kisah ini juga memiliki dalil dalam kitab Shahih Al-Bukhari (6/192) dari Anas. 3. Disebutkan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Ad-Dur Al-Mantsur (3/280), dan disebutkan juga oleh Ibnu Katsir (2/489). 4. Ibnu Jarir (10/128) dalam Bab At-Tafsir. 5. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam kitabnya Al-Ausath (2/211), dan Ibnu Katsir berkata (2/491): “Sesungguhnya Rasulullah S memerintankan kepada orang-orang untuk berjalan di tengah suatu lembah, lalu beliau, Hudzaifah, dan Ammar menaiki puncak gunung, akan tetapi dua belas orang munafik dengan menunggangi kuda mengikuti mereka dari belakang menaiki gunung untuk membunuh Rasulullah, maka Allah memberitahu Rasul-Nya niat mereka, maka beliau memerintahkan Hudzaifah untuk menghadapi mereka, kemudian Hudzaifah berbalik arah untuk menghadapi mereka. Ketika Hudzaifah melihat mereka, maka ia langsung memukul wajah tunggangan mereka hingga mereka ketakutan dan kembali dengan kehinaan, dan setelah itu Rasulullah memberitahu kepada Hudzaifah dan Ammar nama-nama orang munafik tersebut dan niat mereka untuk membunuh Nabi B, dan juga beliau memerintahkan mereka berdua untuk merahasiakannya.” Aku katakan, “Hadits ini mempunyai penguat dari Imam Muslim (8).” 6. Al-Qurthubi berkata (4/3132): “Sesungguhnya orang yang terbunuh adalah seseorang yang dimerdekakan oleh Julas.” Al-Kalbi berkata: “Sebelum kedatangan Nabi, mereka hidup dalam serba kekurangan, tidak mempunyai kuda sebagai tunggangan, dan tidak pernah mendapatkan harta rampasan, akan tetapi ketika Nabi datang, mereka menjadi orang-orang kaya dengan harta rampasan.”
KafirMencelaSumpah

Tafsir Lengkap

Orang-orang munafik akan melakukan apa saja demi menutupi keburukan perilaku dan ucapannyanya. Bahkan, mereka berani bersumpah dengan nama Allah di hadapan engkau, wahai Nabi, bahwa mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti engkau, padahal sumpah itu bohong belaka. Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, yaitu mencela Nabi Muhammad dan agama Islam, dan telah menjadi kafir dengan terkuaknya kebusukan hati mereka setelah sebelumnya mereka menutupinya dengan pura-pura mengikuti ajaran Islam, dan mereka juga sangat menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya, yaitu membunuh Rasulullah. Mereka tidak mencela, melainkan didorong oleh rasa iri dan dengki karena Allah dan Rasul-Nya melimpahkan karunia-Nya kepada mereka dengan jumlah lebih kecil, tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Maka, jika mereka bertobat dari sikap kemunafikan dan menyesalinya, sehingga tobatnya akan diterima, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling dari iman serta tetap dalam kemunafikannya, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dengan berbagai bentuk dan di akhirat dengan neraka Jahanam, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong di bumi jika azab menimpa mereka.

Dibaca 22 kali