Surah 9Ayat 91 / 129

At Taubah

PengampunanMadaniyahJuz 10Halaman 201
Maha Pengampun lagi Maha PenyayangAllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاۤءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضٰى وَلَا عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ اِذَا نَصَحُوْا لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ ﴿٩١﴾

Laisa ‘alaḍ-ḍu‘afā'i wa lā ‘alal-marḍā wa lā ‘alal-lażīna lā yajidūna mā yunfiqūna ḥarajun iżā naṣaḥū lillāhi wa rasūlih(ī), mā ‘alal-muḥsinīna min sabīl(in), wallāhu gafūrur raḥīm(un).

Terjemahan

Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) bagi orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan, jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan apa pun untuk (menyalahkan) orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat At-Taubah Ayat 91- Tidak Ikut Berperang tidak Berdosa karena ada Uzur atau Ketidakmampuan

Ayat ini turun berkenaan dengan seorang pria tunanetra, menurut suatu riwayat bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum, yang ingin ikut berjihad di jalan Allah namun tidak mampu karena kekurangannya itu.

عَنْ زَيْدٍ بْنِ ثَاِبتٍ قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكُنْتُ أَكْتُبُ بَرَاءَةً، فَإِنِّيْ لَوَاضِعُ القَلَمِ عَلَي أُذُنِي إِذْ أُمِرْنَا بِالقِتَالِ، فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ مَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ، إِذْ جَاءَ أَعْمَى فَقَالَ :كَيْفَ بِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَأَنَا أَعْمَى ؟ فَنَزَلَتْ (لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى المَرْضَى...). (1)

Zaid bin Sabit berkata, “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menugasiku menulis ayat-ayat yang diturunkan kepada beliau. Suatu hari aku diminta beliau menulis Surah Bara’ah (at-Taubah). Begitu aku taruh pena di telingaku, sadarlah diriku bahwa Allah memerintahkan kami berperang. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pun memperhatikan ayat yang telah diturunkan kepadanya. Pada saat itu datanglah seorang tunanetra. Ia berkata, ‘Bagaimana dengan diriku? Aku tidak bisa melihat.’ Saat itu turunlah ayat, laisa ‘alad-du‘afa’i wala ‘alal-marda.”

(1) Hasan; diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur ayahnya dari Hisyam bin ‘Ubaidillah ar-Razi dari Ibnu Jabir dari Ibnu Farwah dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila dari Zaid bin sabit. Lihat: Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 6, hlm. 1861, hadis nomor 10205. Hisyam bin ‘Ubaidillah ar-Razi adalah perawi yang saduq dan hadisnya bisa dijadikan hujah. Lihat: Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa at-Ta‘dil, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1953), juz 9, hlm. 67. Ibnu Jabir, seperti halnya Hisyam bin ‘Ubaidillah ar-Razi, adalah perawi yang saduq. Lihat: Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, Taqrib at-Tahzib, hlm. 831. Sementara itu, perawi sisanya siqat dan termasuk perawi dalam kitab Sahih. at-Tabraniy juga meriwayatkan hadis ini, namun redaksi riwayatnya tidak mengaitkan peristiwa di atas dengan turunnya Surah at-Taubah/9: 91, melainkan dengan Surah al-Fath/48: 17. Al-Haisamiy mengatakan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat perawi bernama Muhammad bin Jabir as-Suhaimiy yang menurutnya daif namun hadisnya masih pantas ditulis. Lihat: al-Mu‘jam al-Kabir, juz 5, hlm. 155, hadis nomor 4926; al-Haisamiy, Majma‘ az-Zawa’id, juz 7, hlm. 169, hadis nomor 11346. Lihat pula: Abu ‘Umar Nadi bin Mahmud al-Azhariy, al-Maqbul fi Asbab an-Nuzul, hlm. 386.

 

JihadPenaTunanetra

Asbabun Nuzul Surat At-Taubah Ayat 91 - Imam as Suyuthi : Orang-Orang Yang Lemah Dan Tidak Mampu, Seperti Buta Maka Tidak Diwajibkan Ikut Perang

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang'orang yang lemah, orang'orang yang sakit dan atas orang'orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka najkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul'Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang'orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Zaid bin Tsabit bahwasanya ia berkata, “Bahwa dahulu aku menjadi juru tulis Rasulullah Pada waktu menuliskan surat Bara’ah (At-Taubah), aku sedang menaruh pena di telingaku ketika kami diperintahkan berperang. Rasulullah memerhatikan apa yang diturunkan kepadanya ketika tiba-tiba datang seorang buta, lalu bertanya kepadanya, “Bagaimana dengan aku yang buta ini, wahai Rasulullah?” Maka turunlah ayat, “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah...” (1). Ia meriwayatkan melalui jalur Al- Aufi dari Ibnu Abbas 4® bahwa Rasulullah memerintahkan orang- orang untuk berangkat berperang bersama beliau. Lalu datanglah sejumlah sahabat beliau, di antaranya Abdullah bin Ma’qil Al-Muzanni yang berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah kami!” Beliau menjawab, “Demi Allah, aku tidak mempunyai binatang tunggangan untuk membawa kalian.” Mereka pun terpaksa pergi sambil menangis. Mereka berduka karena tidak dapat ikut pergi berjihad karena tidak punya bekal dan kendaraan. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan tidak ada dosa juga atas orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberikan kendaraan kepada mereka...” (2). dan Nama-nama mereka telah disebutkan dalam Al-Mubhamat.
1. Keduanya disebutkan oleh Ibnu Katsir (2/502-503) dan ia mengatakan bahwasanya Mujahid berkata, “Ayat ini turun pada Bani Muqarrin bin Muzainah.” Muhammad bin Ka’ab berkata, “Mereka adalah tujuh orang dari Bani Amru bin Auf Salim bin Auf, Bani Waqif Harami bin Amru, Bani Najar Mazin Bin Najar, Abdurrahman bin Ka’ab yang biasa dipanggil dengan “Abu Laila”, Bani Ma’la Salman bin Shakhr, Bani Haritsah Abdurrahman bin Yazid Abu Ablah dan ia yang menginfakkan dirinya, dan Allah menerimanya, Bani Salma bin Amru bin Ganmah, dan Abdullah bin Amru Al-Muzanni.” Al-Qurthubi berkata (4/3153): “Ayat ini turun pada ‘Irbad bin Sariyah.” Ada juga yang mengatakan turunnya ayat ini pada Aidz bin Amru, dan ada juga yang mengatakan pada Bani Muqarrin, dan mereka tujuh bersaudara yaitu: Nu’man, Ma’qil, Uqail, Suwaid, Sinan, dan orang yang ketujuh tidak disebutkan namanya.” 2. Lihat sebelumnya.
DosaLemahSakit

Tafsir Lengkap

Inilah kelompok yang diizinkan untuk tidak ikut perang. Tidak ada dosa karena tidak pergi berperang atas orang yang lemah, baik karena usianya sudah tua maupun lemah fisik seperti kaum perempuan dan anak-anak, orang yang sakit dan orang miskin yang tidak memperoleh apa, yakni biaya atau bekal, yang akan mereka infakkan untuk berjihad juga untuk keluarga yang ditinggalkan, apabila mereka ikhlas dalam niat dan imannya kepada Allah dan senantiasa menunjukkan sikap ketaatan kepada Rasul-Nya, maka tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan dan mencela mereka, sebab sejatinya mereka itu adalah orang-orang yang berbuat baik dan tidak membenci perintah jihad. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Ini merupakan hukum yang berlaku bagi semua taklif agama, sebab pada dasarnya manusia itu tidak memperoleh beban di atas kesanggupannya.

Dibaca 21 kali