Surah 2Ayat 142 / 286

Al Baqarah

SapiMadaniyahJuz 2Halaman 22
Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiAllah menunjukkan ke jalan yang lurusTentang KiblatPergeseran KiblatAda yang bodohAllah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki

۞ سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَاۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ﴿١٤٢﴾

Sayāqūlus-sufahā'u minan-nāsi mā wallāhum ‘an qiblatihimul-latī kānū ‘alaihā, qul lillāhil-masyriqu wal-magrib(u), yahdī may yasyā'u ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).

Terjemahan

Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).”

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 142 - Perintah Allah Mengubah Arah Kiblat ke Mekah yang Membuat Heran Kaum Yahudi

Ketika Nabi hijrah ke Madinah, kaum Yahudi merasa bangga melihat Nabi salat menghadap Baitul Maqdis, kiblat mereka. Allah kemudian menurunkan ayat yang memerintahkan Nabi untuk mengubah arah kiblat kembali menuju Mekah. Hal ini membuat kaum Yahudi terheran-heran.

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قاَلَ كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ المَقْدِسِ، سِتَّةَ عَشَرَ أوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وكانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يُحِبُّ أنْ يُوَجَّهَ إلى الكَعْبَةِ، فأنْزَلَ اللَّهُ: (قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وجْهِكَ في السَّمَاءِ)، فَتَوَجَّهَ نَحْوَ الكَعْبَةِ، وقالَ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ، وهُمُ اليَهُودُ: (ما ولَّاهُمْ عن قِبْلَتِهِمُ الَّتي كَانُوا عَلَيْهَا، قُلْ لِلَّهِ المَشْرِقُ والمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إلى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ). فَصَلَّى مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ رَجُلٌ، ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَما صَلَّى، فَمَرَّ علَى قَوْمٍ مِنَ الأنْصَارِ في صَلَاةِ العَصْرِ نَحْوَ بَيْتِ المَقْدِسِ، فَقالَ: هو يَشْهَدُ: أنَّه صَلَّى مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وأنَّهُ تَوَجَّهَ نَحْوَ الكَعْبَةِ، فَتَحَرَّفَ القَوْمُ، حتَّى تَوَجَّهُوا نَحْوَ الكَعْبَةِ. (1)

Al-Bara’ bin ‘Ahu ‘alaihi wasallam salat selama enam belas atau tujuh belas bulan menghadap ke Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha), sedangkan beliau sangat ingin salat menghadap Ka'bah. Allah pun menurunkan ayat, qad nara taqalluba wajhika fis-sama’. Rasulullah lantas salat menghadap Ka'bah kembali. Melihat hal itu, orang-orang bodoh (kaum Yahudi) berkata, ‘Apa yang membuat mereka (kaum muslim) berpaling dari kiblat sebelumnya?’ (Ketika peristiwa pengalihan kiblat ini terjadi), seorang sahabat—menurut riwayat ia adalah ‘Abbad bin Bisyr—salat bersama Rasulullah. Usai salat ia keluar masjid dan berpapasan dengan sekelompok kaum Ansar yang sedang salat Asar menghadap Baitul Maqdis. Ia bersaksi di hadapan mereka bahwa dirinya telah salat bersama Rasulullah menghadap Ka'bah. Mendengar kesaksian itu mereka lantas berpaling dan mengubah arah salat kembali ke Ka'bah.”

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Sahih-Bukhariy, (Damaskus: Dar Ibni Kas\ir, cet. 1, 2002), dalam Kitab as-Salah, Bab at-Tawajjuh Nahw al-Qiblah, hlm. 110, hadis nomor 399.

Baitul MaqdisKa'bahKiblat

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 - Imam as Suyuthi : Awal Mula Bergantinya Kiblat Ke Ka'Bah

“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (baitul maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya!” katakanlah, “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikianlah (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang- orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
Ibnu Ishaq berkata, Isma’il bin Khalid bercerita kepadaku, dari Abi Ishaq dari Al-Bara’ berkata, “Adalah Rasulullah melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, dan ia sering menengadahkan pandangannya ke langit menunggu perintah Allah, maka Allah menurunkan ayat-Nya, “Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.” Maka, seorang pria dari kaum Muslim berkata, “keinginan kami adalah jika saja kami dapat mengetahui siapa saja akan meninggal dari kami sebelum kami menghadap ke kiblat (ka’bah), dan bagaimana dengan shalat kami ketika menghadap ke arah Baitul Maqdis,” maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” Orang-orang bodoh berkata, “apa yang membuat mereka membelot dari kiblat mereka yang sebelumnya mereka berkiblat kepadanya?” maka Allah menurunkan ayat-Nya, “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Mae/dis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? ” hingga akhir ayat . Riwayat ini mempunyai beberapa jalan lainnya. Di dalam kitab Ash-Shahihain dari Al-Bara’, “Beberapa orang meninggal dan terbunuh ketika kiblat belum berpindah, maka apa yang harus kami katakan tentang mereka?” maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (1)
(1) Muttafaq ‘Alaihi: Al-Bukhari (4486) dalam Bab At'Tafsir. Muslim (525) dalam Bah AbMasajid.
Ka'bahKiblatMekkah

Tafsir Lengkap

Setelah pada ayat yang lalu diceritakan perilaku kaum Yahudi secara umum, pada ayat ini Allah menjelaskan sikap mereka dan juga orang musyrik terkait persoalan khusus, yaitu pengalihan kiblat salat dari Baitulmakdis di Palestina ke Kakbah di Mekah. Pada saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau dan para sahabatnya selama 16 sampai 17 bulan melaksanakan salat menghadap ke Baitulmakdis. Pada Rajab tahun ke-2 Hijriah, Allah memerintahkan Nabi untuk menghadap ke Masjidilharam di Mekah. Tentang hal ini Allah berfirman sebagai berikut. Orang-orang yang kurang akal di antara manusia, yakni sebagian orang Yahudi dan kelompok lain, akan mengolok-olok Nabi dan kaum mukmin dengan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka, yakni kaum muslim, dari kiblat yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?” Pemberitahuan awal ini dilakukan agar Nabi dan orang-orang Islam tidak kaget jika hal itu tejadi. Lalu Allah memerintahkan kepada Nabi untuk menjawab mereka. Katakanlah, wahai Rasul, “Milik Allah-lah timur dan barat. Allah berhak untuk menyuruh hamba-Nya menghadap ke arah mana saja, apakah ke arah timur atau barat, karena semua arah adalah milik Allah. Mereka yang beriman dengan benar akan mengikuti seluruh perintah Allah. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Allah. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” Allah yang paling mengetahui siapa yang pantas untuk mendapat petunjuk itu.

Dibaca 23 kali