وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ ﴿٢٢٢﴾
Terjemahan
Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah suatu kotoran.” 65) Maka, jauhilah para istri (dari melakukan hubungan intim) pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 222 - Perbaikan Islam terhadap Kebiasaan Kaum Yahudi kepada Istri yang Sedang Haid
Ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat tentang kebiasaan kaum Yahudi menjauhi para istri di saat haid. Mereka enggan dekat-dekat dengan para istri, bahkan untuk sekadar makan bersama atau bercengkerama.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الْيَهُودَ، كَانُوا إِذَا حَاضَتِ الْمَرْأَةُ فِيهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى (وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ. فَبَلَغَ ذَلِكَ الْيَهُودَ، فَقَالُوا مَا يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدَعَ مِنْ أَمْرِنَا شَيْئًا إِلاَّ خَالَفَنَا فِيهِ فَجَاءَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَعَبَّادُ بْنُ بِشْرٍ فَقَالاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا فَلاَ نُجَامِعُهُنَّ فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ قَدْ وَجَدَ عَلَيْهِمَا فَخَرَجَا فَاسْتَقْبَلَهُمَا هَدِيَّةٌ مِنْ لَبَنٍ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَرْسَلَ فِي آثَارِهِمَا فَسَقَاهُمَا فَعَرَفَا أَنْ لَمْ يَجِدْ عَلَيْهِمَا. (1) عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: كَانُوْا يَجْتَنِبُوْنَ النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَيَأْتُوْنَهُنَّ فِي أَدْبَارِهِنَّ، فَسَأَلُوْا رَسُوْلَ اللهَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَأَنْزَلَ الله تَعَالَى: (وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ) فِي الْفَرْجِ وَلَا تَعْدُوْهُ. (2)
Anas mengatakan, “Sudah menjadi kebiasaan kaum Yahudi, jika para istri mereka haid, para suami enggan makan bersama dan bercengkerama dengan mereka dalam satu rumah. Para sahabat menanyakan hal ini kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Allah menurunkan firman-Nya, wayas ‘alunaka ‘anil-mahidiqul huwa az\an fa‘tazilun-nisa’a fil-mahid. Rasulullah bersabda, ‘(Bila istri-istri kalian sedang haid), kalian boleh melakukan apa saja dengan mereka, kecuali berhubungan badan.’ Mendengar keputusan Rasulullah yang demikian ini, kaum Yahudi berkata, ‘Pria ini (Muhammad) tidak mau membiarkan satu pun dari urusan kita, kecuali ia menyatakan pendapat yang berbeda dari kita tentang persoalan itu.’ Datanglah Usaid bin Hudair dan ‘Abbad bin Bisyr seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kaum Yahudi mengatakan begini dan begitu, jadi kami pun tidak membiarkan para istri tinggal serumah dengan kami di saat haid.’ Raut wajah Rasulullah tiba-tiba berubah hingga kami menyangka beliau marah kepada keduanya. Mereka lantas undur diri dan tak lama kemudian datang kembali sembari mempersembahkan hadiah berupa susu kepada Rasulullah. Setelah itu Rasulullah mengajak keduanya minum bersama sehingga mereka tahu bahwa Rasulullah tidak memarahi mereka.” Mujahid berkata, “Dahulu kaum pria Yahudi menjauhi farji istri-istri mereka di saat haid, sehingga mereka pun menggauli para istri melalui dubur. Para sahabat menanyakan hal ini kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Allah menurunkan firman-Nya, wayas’alunaka ‘anilmahidi, qul huwa az\an fa‘tazilun-nisa’a fil-mahidi wala taqrabuhunna hatta yathurna faiz\a tatahharna fa’tuhunna min hais\u amarakumullah—campurilah mereka melalui farji dan janganlah kalian menyimpang dari ketentuan ini.”
(1) Diriwayatkan oleh Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab al-Haid, Bab Jawaz Gasl al-Ha’id Ra’s Zaujiha, hadis nomor 302. Dalam redaksi yang lebih singkat riwayat ini dikutip oleh al-Wahidiy dan as-Suyutiy. Lihat: al-Wahidiy, Asbab Nuzul al-Qur’an, hlm. 76; as-Suyutiy, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, (Beirut: Mu’assasah al-Kutub as\-s\aqafiyyah, cet. 1, 2002), hlm. 43 (2) Hasan, diriwayatkan oleh ad-Darimiy. Lihat: ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman ad-Darimiy, Sunan ad-Darimiy, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabiy, Beirut, cet. 1, 1407 H), dalam Kitab at-T|aharah, Bab Man Ata Imra’atah fi Duburiha, hadis nomor 1145. Sanadnya hasan menurut penilaian Husain bin Salim Asad.
Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 222 - Imam as Suyuthi : Boleh Bermesra Dengan Istri Kecuali Dalam Keadaan Haid
Tafsir Lengkap
Dibaca 46 kali
