Surah 2Ayat 223 / 286

Al Baqarah

SapiMadaniyahJuz 2Halaman 35
Perintah untuk bertaqwa kepada AllahPernikahan

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ﴿٢٢٣﴾

Nisā'ukum ḥarṡul lakum, fa'tū ḥarṡakum annā syi'tum, wa qaddimū li anfusikum, wattaqullāha wa‘lamū annakum mulāqūh(u), wa basysyiril-mu'minīn(a).

Terjemahan

Istrimu adalah ladang bagimu. 66) Maka, datangilah ladangmu itu (bercampurlah dengan benar dan wajar) kapan dan bagaimana yang kamu sukai. Utamakanlah (hal yang terbaik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menghadap kepada-Nya. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.

Catatan Kaki:66) Istri diumpamakan sebagai ladang, tempat menanam benih. Maka tanamlah benih itu sesuai waktu yang disukai.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 223 - Sanggahan Allah atas Keyakinan Kaum Yahudi jika Suami Mencampuri Istri di Farji dari Arah Belakang

Ayat ini turun sebagai sanggahan atas keyakinan kaum Yahudi bahwa jika suami mencampuri istrinya di farji dari arah belakang maka anak yang lahir dari hubungan itu akan bermata juling.

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَتِ الْيَهُودُ تَقُولُ إِذَا أَتَى اَلرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا كَانَ اَلْوَلَدُ أَحْوَلَ،‏ فَنَزَلَتْ: (نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ). (1)

Jabir bin Abdullah berkata, “Kaum Yahudi meyakini bahwa jika seorang suami mencampuri istrinya di lubang farjinya dari arah belakang maka akan lahir anak yang bermata juling. Berkaitan dengan hal itu turunlah firman Allah, nisa’ukum hars\un lakum fa’tu hars\akum anna syi’tum.”

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Sahih} al-Bukhariy, dalam Kitab at-Tafsir, Bab Nisa’ukum Hars\ Lakum, hlm. 1109, hadis nomor 4528; Muslim, Sahih} Muslim, dalam Kitab an-Nikah, Bab Jawaz Jima‘ih Imra’atah fi Qubuliha, juz 2, hlm. 1085, hadis nomor 1435.

IstriJulingkemaluan

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 223 - Imam as Suyuthi : Kebolehan Menggauli Istri Dari Arah Manapun Kecuali Dubur

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok- tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu hendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. ”
Diriwayatkan oleh Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim), Abu Dawud, dan At-Tirmidzi, dari Jabir berkata, “Dahulu orang-orang Yahudi berkata, “Jika seseorang mendatangi istrinya dari belakang, maka kelak anaknya akan juling,” maka turunlah ayat, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok- tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu hendaki." (1) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas H berkata, “Umar datang kepada Rasulullah S dan berkata, “celakalah aku wahai Rasulullah!” beliau bersabda, “apa yang membuatmu celaka?’’ ia berkata, “Semalam aku menggauli istriku dari arah belakang”, Rasulullah tidak menjawab apa pun, maka turunlah ayat ini, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok- tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok- tanammu itu bagaimana saja kamu hendaki.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Datangilah ia dari depan dan belakang dan jauhilah dubur dan haidh." (2) Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Abu Ya’la, dan Ibnu Mardawaih, dari jalur Zaid bin Aslam, dari Atha bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwasanya seseorang lelaki mendatangi istrinya dari belakang, maka kemudian orang- orang mengingkari perbuatannya. Maka turunlah ayat, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu hendaki.” (3) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Umar bahwasanya ia berkata, “Ayat ini diturunkan dalam perkara mendatangi wanita pada posisi belakang mereka.” (4) Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam kitab Al-Ausat dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar berkata, “Ayat ini diturunkan kepada Rasulullah, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam,’’ sebagai keringanan untuk mendatangi wanita dari arah belakang” . (5) Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabarani dari Ibnu Umar , bahwasanya seorang lelaki mendatangi istrinya dari arah belakang pada zaman Rasulullah, kemudian Rasulullah mengingkari perbuatan tersebut, maka Allah menurunkan ayat-Nya, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam." (6) Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Hakim, dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya bukan yang dikatakan Ibnu Umar -semoga Allah mengampuninya dan para sahabat yang lainnya- (tentang sebab turun ayat ini). Akan tetapi dahulu orang-orang Anshar, penduduk perkampungan ini, adalah penyembah berhala. Mereka hidup berdampingan dengan perkampungan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi itu merasa mempunyai keutamaan ilmu melebihi orang-orang Anshar. Dan mereka orang-orang Anshar banyak mengikuti kebiasaan orang-orang Yahudi tersebut. Di antara kebiasaan orang-orang Yahudi bahwasanya mereka tidak menggauli istri-istri mereka kecuali dari arah samping, dan itu lebih membuat wanita tersebut lebih tertutupi. Orang- orang Anshar pun banyak yang menirunya. Sedangkan orang-orang Quraisy menggauli istri-istri mereka dalam keadaan terlentang. Ketika orang-orang Muhajirin datang ke Madinah, salah seorang dari mereka menikahi wanita dari kaum Anshar. Lalu ia menggaulinya seperti orang-orang Quraisy ketika menggauli istri-istri mereka. Sang istri pun menyalahkannya, dan ia berkata, “Kami hanya digauli dari samping.” Lalu mereka mendiamkan permasalahan mereka tersebut. Namun kemudian Rasulullah mendengar hal tersebut. Maka turunlah firman Allah, “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu hendaki.” Maksudnya yaitu, gaulilah mereka baik dari arah depan, dari arah belakang, ataupun dalam keadaan terlentang selama itu pada kemaluannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Syarh Al-Bukahri, “Sebab turun ayat ini -yang disebutkan oleh Ibnu Umar- adalah masyhur, dan sepertinya hadits Abu Sa’id tidak sampai pada Ibnu Abbas dan yang sampai kepadanya adalah hadits Ibnu Umar, hingga ia mengira hadits tersebut dari Ibnu Abbas." (7)
1. Muttafaq Alaihi: Al-Bukhari (4528) dalam Bab At-Tafsir, Muslim (1435) dalam Bab An-Nikah. 2.Hasan: At-Tirmidzi (2980) dalam Bab At-Tafsir. Ibnu Katsir berkata (1/356) bahwasanya Ibnu Umar memperdengarkan hafalan Al-Qurannya kepada Nafi’, ketika ia sampai pada ayat, aIstri- istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam,” ia berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu mengetahui apa yang dimaksud oleh ayat ini?” Nafi’ menjawab, “Tidak”, kemduian Ibnu Umar berkata, “dahulu kami orang-orang Quraisy suka mengumpulkan para wanita, ketika kami memasuki kota Madinah, kami menikahi wanita-wanita Anshar, dan kami mendatangi wanita tersebut seperti dahulu kami pada di Makkah. Akan tetapi wanita-wanita tersebut menolak dan hanya menginginkan seperti halnya wanita Yahudi yang disetubuhi dari samping, maka turunlah firman Allah, ‘Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam.” 3. Lihat Ath-Thahawi (3/40) yang menjelaskan makna-makna atsar. 4. Shahih: Al-Bukhari (4527) dalam Bab At-Tafsir. 5. Jayyid: Ath-Thabarani (4/145).6. Lihat sebelumnya. 7. Abu Dawud (2164) dalam Bab An-Nikah, dan Al-Hakim (2/279) dalam kitab Al-Mustadrak.
DuburIstrikJimak

Tafsir Lengkap

Istri-istrimu adalah ibarat ladang bagimu tempat kamu menanam benih. Karena itu, maka datangilah ladangmu itu untuk menyemai benih kapan saja kamu suka kecuali bila istrimu sedang haid, dan dengan cara yang kamu sukai, asalkan arah yang dituju adalah satu, yaitu farji. Dan utamakanlah hubungan suami istri itu untuk tujuan yang baik untuk dirimu demi kemaslahatan dunia dan akhirat, bukan sekadar melampiaskan nafsu. Bertakwalah kepada Allah dalam menjalin hubungan suami-istri, dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya untuk menerima imbalan atas amal perbuatanmu selama di dunia. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman yang imannya dapat mengantar mereka mematuhi tuntunan-tuntunan Ilahi.

Dibaca 17 kali