اَلطَّلَاقُ مَرَّتٰنِۖ فَاِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌۢ بِاِحْسَانٍۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْـًٔا اِلَّآ اَنْ يَّخَافَآ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۗ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۙ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَاۚ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ﴿٢٢٩﴾
Terjemahan
Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan (rujuk) dengan cara yang patut atau melepaskan (menceraikan) dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu (mahar) yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan batas-batas ketentuan Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan batas-batas (ketentuan) Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. 68) Itulah batas-batas (ketentuan) Allah, janganlah kamu melanggarnya. Siapa yang melanggar batas-batas (ketentuan) Allah, mereka itulah orang-orang zalim.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 229 - Maksimal Tiga Kali Suami Menalak Istri
Pada masa permulaan Islam, seorang suami tetap berhak merujuk istrinya meski ia telah menalaknya seribu kali, selama masih dalam masa idah. Kini hak suami untuk menalak istrinya dibatas hanya tiga kali.
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثُمَّ ارْتَجَعَهَا قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ عِدَّتُهَا كَانَ ذَلِكَ لَهُ وَإِنْ طَلَّقَهَا أَلْفَ مَرَّةٍ فَعَمَدَ رَجُلٌ إِلَى امْرَأَتِهِ فَطَلَّقَهَا حَتَّى إِذَا شَارَفَتِ انْقِضَاءَ عِدَّتِهَا رَاجَعَهَا ثُمَّ طَلَّقَهَا ثُمَّ قَالَ لاَ وَاللَّهِ لاَ آوِيكِ إِلَىَّ وَلاَ تَحِلِّينَ أَبَدًا . فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى (الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ) فَاسْتَقْبَلَ النَّاسُ الطَّلاَقَ جَدِيدًا مِنْ يَوْمِئِذٍ مَنْ كَانَ طَلَّقَ مِنْهُمْ أَوْ لَمْ يُطَلِّقْ. (1)
(1) Sahih mursal; diriwayatkan oleh Malik. Lihat: Malik bin Anas, al-Muwatta’, (Beirut: Dar al-Garb al-Islamiy, 1997), dalam Kitab at-talaq, Bab Jami‘ at-talaq, juz 1, hlm. 103, hadis nomor 1721. Hadis serupa dengan sanad mursal juga diriwayatkan oleh al-Baihaqiy, as-Sunan al-Kubra, dalam Kitab al-‘Idad, Bab Iddah al-Mutallaqah Yamlik Zaujuha Raj‘ataha, juz 7, hlm. 730, hadis nomor 15560. Adapun hadis serupa dengan sanad marfu' diriwayatkan misalnya oleh at-Tirmiz\iy, Sunan at-Tirmiz\iy, dalam Kitab at-Talaq wa al-Li‘an, Bab fi ‘Iddah al-Mutallaqat, hlm. 283–284, hadis nomor 1192, melalui jalur Ya‘la bin Syabib. At-Tirmiz\iy mengisyaratkan bahwa hadis ini mempunyai kelemahan. Pada catatan kakinya terhadap al-Muwatta’, Basyyar ‘Awad Ma‘ruf menjelaskan bahwa hadis ini mursal, namun lebih sahih dibanding riwayat lain dari jalur Ya‘la bin Syabib. Hal senada dikemukakan oleh ‘Isam bin ‘Abdul Muhsin al-Humaidan. Menurutnya, hadis ini mursal sahih al-isnad, sedangkan hadis lain yang melalui jalur Ya‘la bin Syabib lemah karena keberadaan Ya‘la bin Syabib itu sendiri. Sementara itu, Khalid bin Sulaiman al-Maziniy menyatakan bahwa meski sanad hadis ini mursal kepada ‘Urwah, namun para mufasir sepakat menerima riwayat ini sebagai sebab nuzul ayat di atas. Lihat: ‘Isam bin ‘Abdul Muhsin, as-Sahih} min Asbab an-Nuzul, hlm. 70; Khalid bin Sulaiman al-Maziniy, al-Muharrar fi Asbab Nuzul al-Qur’an, (Riyad: Dar Ibni al-Jauziy, cet. 2, 1429 H), juz 1, hlm. 280.
Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 229 - Imam as Suyuthi : Talak Membolehkan Rujuk Kecuali Sampai Tiga Kali
Tafsir Lengkap
Dibaca 22 kali
