Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Asbabun Nuzul Surat Al-Kahf Ayat 110 - Tanggapan Pada Orang yang Ingin Mendapatkan Tempat yang Mulia di Surga tetapi Ria
Ayat ini turun sebagai tanggapan kepada seorang sahabat Nabi yang ingin mendapatkan tempat yang mulia di surga.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Seorang sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku ingin sekali melakukan suatu amal demi mencari keridaan Allah. Namun, aku juga ingin agar orang lain melihat perbuatanku itu.’ Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu hingga turunlah ayat, faman kana yarju liqa’a rabbihi falya‘mal ‘amalan salihan wala yusyrik bi‘ibadati rabbihi ahada.”
(1) Sahih; diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqiy secara mausul dari Ibnu ‘Abbas. Lihat: al-Hakim, al-Mustadrak, dalam Kitab al-Jihad, juz 2, hlm. 122, hadis nomor 2527; al-Baihaqiy, Syu‘ab al-I
AmalMuliaSurga
Asbabun Nuzul Surat Al-Kahfi Ayat 110 - Imam as Suyuthi : Nabi Muhammad Juga Manusia Biasa Layak Umumnya
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan dalam Kitab Al-Ikhlash dari Thawus, ia berkata, “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berdiri untuk berperang karena mengharap ridha Allah, aku juga senang kedudukanku terlihat orang lain.” Rasulullah tidak menjawab apa-apa kepada laki-laki itu hingga turunlah ayat ini, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” Hadits ini diriwayatkan secara mursal.
Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dengan sanad yang maushul (bersambung), dari Thawus, dari Ibnu Abbas. Al-Hakim menshahihkan riwayat ini karena memenuhi syarat Asy-Syaikhani (Al- Bukhari dan Muslim). (1) Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, “Bahwa dahulu ada seorang laki-laki dari kaum Muslimin yang berperang dan ia senang kedudukannya di lihat orang lain. Maka Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya... ” (2) Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir meriwayatkan dalam kitab Tarikh-nya dari jalur As-Suddi Ash-Shaghir, dari Al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Jundub bin Zuhair apabila shalat atau puasa atau bersedekah kemudian ia mendapat pujian yang menyenangkan hatinya, maka ia akan menambah ibadahnya itu untuk mendapatkan ucapan manusia. Berkenaan dengan hal ini, maka turunlah ayat, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya.. .” (3)
1. Diriwayatkan secara mursal oleh Ibnu Jarir (16/32).
2. Shahih: Diriwayatkan secara maushul oleh Al-Hakim (2/122). Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Asy-Syaikhaini. Ibnu Katsir (3/154) berkata, “Demikianlah Mujahid meriwayatkan secara mursal, begitupun ulama lainnya.”
3. Al-Qurthubi (6/4239-4240) meriwayatkannyadari Ibnu Abbas 'B), iamengatakatan, “Ia (laki-laki itu) adalah Jundub bin Zuhair Al-Amiri.
AmalImanKafir
Tafsir Lengkap
Allah memerintah Nabi untuk menjelaskan jati dirinya. Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah diwahyukan kepadaku sesuai kehendak Allah bahwa sesungguhnya Tuhan kamu yang menjadi tujuan ibadah adalah Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Maka, barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya dan menghendaki ganjaran atas amal perbuatannya di akhirat kelak, maka hendaklah dia selalu mengerjakan kebajikan dan menjauhi semua hal keji dan mungkar serta janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya. Hendaklah dia beribadah kepada-Nya dengan tulus, bukan karena ria, dan dilandasi niat untuk menggapai rida-Nya.”[]