Surah 4Ayat 60 / 176

An Nisaa

PerempuanMadaniyahJuz 5Halaman 88
Perintah untuk melihatKata-kata Setan dalam al-Qur'anKata-kata Setan dalam al-Qur'an

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَحَاكَمُوْٓا اِلَى الطَّاغُوْتِ وَقَدْ اُمِرُوْٓا اَنْ يَّكْفُرُوْا بِهٖۗ وَيُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّضِلَّهُمْ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا ﴿٦٠﴾

Alam tara ilal-lażīna yaz‘umūna annahum āmanū bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablika yurīdūna ay yataḥākamū ilaṭ-ṭāgūti wa qad umirū ay yakfurū bih(ī), wa yurīdusy-syaiṭānu ay yuḍillahum ḍalālam ba‘īdā(n).

Terjemahan

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan pada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak bertahkim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sangat jauh.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 60 - Larangan Mendatangi Dukun

Ayat ini turun sebagai teguran kepada beberapa orang yang telah menyatakan beriman namun masih melakukan kebiasaan orang-orang musyrik, seperti mendatangi dukun untuk bertahkim dalam berbagai persoalan yang terjadi di antara mereka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ أَبُوْ بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيُّ كَاهِنًا يَقْضِيْ بَيْنَ الْيَهُوْدِ فِيْمَا يَتَنَافِرُوْا إِلَيْهِ، فَتَنَافَرَ إِلَيْهِ نَاسٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَأَنْزَلَ الله عَزَّ وَجَلَّ: (أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ آمَنُوْا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ... إِلَى قَوْلِهِ: إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيْقًا). (1)

Ibnu ‘Abbas bercerita, “Abu Barzah al-Aslamiy dulunya adalah seorang tukang tenung (kahin) yang dipercaya menjadi hakim ketika terjadi suatu perselisihan di kalangan Yahudi. Melihat hal itu, beberapa umat Islam terpengaruh dan meminta keputusan kepadanya. Allah lalu menurunkan firman-Nya, alam tara ilal-laz\ina yaz‘umuna annahum amanu bima unzila ilaika wama unzila min qablika ... hingga firman-Nya, in aradna illa ihsanan wataufiqa.”

(1) Sahih; diriwayatkan oleh at-Tabraniy, al-Wahidiy, dan Ibnu Abi Hatim. Lihat: at-Tabraniy, al-Mu‘jam al-Kabir, juz 11, hlm. 373, hadis nomor 12045; al-Wahidiy, Asbab Nuzul al-Qur’an, hlm. 160–161; Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 3, hlm. 991, hadis nomor 5547. Al-Hais\amiy dan as-Suyutiy mengatakan sanad hadis ini sahih. Hadis ini juga memiliki banyak syawahid yang menguatkannya. Pendapat keduanya disetujui oleh Muqbil bin Hadiy al-Wadi‘iy dan Ibrahim Muhammad al-‘Aliy. Lihat: al-Hais\amiy, Majma‘ az-Zawa’id, dalam Kitab at-Tafsir, juz 7, hlm. 40, hadis nomor 10934; as-Suyutiy, Lubab an-Nuqul, hlm. 81; Muqbil bin Hadi, as-Sahih} al-Musnad min Asbab an-Nuzul, hlm. 77; Ibrahim Muhammad al-‘Aliy, Sahih} Asbab an-Nuzul, hlm. 79.

DukunTahkimTenung

Asbabun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 60 - Imam as Suyuthi : Orang Beriman Yang Tidak Mau Memutuskan Sebuah Perkara Kepada Rasulullah Melainkan Kepada Para Dukun

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. ”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Abbas H bahwasanya ia berkata, “Dahulu ada seorang yang berprofesi sebagai dukun yang suka memutuskan perkara yang diperselisihkan di kalangan orang-orang Yahudi yang bernama Abu Barzah Al-Aslami, maka beberapa orang Muslim ketika berselisih, mereka meminta Abu Barzah untuk memutuskan perkara mereka. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang'orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh' jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang'orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat'kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang'orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali'kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” (1) (An-Nisa’: 60-62) Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Ikrimah atau Sa’id dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Al-Jullas bin Shamit, Mu’tab bin Qusyair, Rafi’ bin Zaid, dan Bisyr mengaku-ngaku sebagai orang Islam. Lalu orang-orang Muslim dari kaum mereka mengajak mereka untuk menyelesaikan persengketaan antara mereka dengan menyerahkannya kepada Rasulullah Namun mereka mengajak orang-orang Muslim tersebut untuk mendatangi dukun-dukun, yaitu para pemutus perkara pada masa jahiliyah. Maka pada mereka Allah menurunkan firman-Nya, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang'orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu....” Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Asy-Sya’bi berkata, “Dahulu ada seorang lelaki yang mengaku Islam bertikai dengan seorang Yahudi, maka orang Yahudi tersebut mengatakan, “Saya ingin membawa perkara kita kepada Nabimu,” ia mengatakan seperti itu karena ia sangat mengetahui bahwasanya Nabi tidak pemah menerima sogokan ketika memutuskan suatu perkara. Akan tetapi orang yang mengaku muslim tersebut tidak setuju dan menginginkan untuk membawa perkara mereka kepada seorang dukun di Juhainah, maka turunlah ayat ini.” (2)
1. Shahih: Al-Haitsami berakata dalam kitabnya Al-Majma bahwasanya dalam hadits ini terdapat Yunus bin Sulaiman Al-Jamal, aku tidak mengetahuinya, dan perawi lainnya Shahih, disebutkan juga oleh Ibnu Katsir (1/686). 2. Disebutkan oleh Al-Qurthubi (2/1926), Ibnu Jarir (5/97) dalam Tafsir-nya.
dukunImanSyirik

Tafsir Lengkap

Setelah menjelaskan bagaimana sikap yang harus diperankan oleh orang-orang beriman, maka ayat berikutnya menjelaskan sifat buruk yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Tidakkah engkau, wahai Nabi Muhammad dan kaum muslim, memperhatikan dengan seksama dan cermat, bagaimana orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, yakni Al-Qur’an, dan juga beriman kepada apa yang diturunkan sebelummu, yakni Taurat, Zabur, dan Injil? Tetapi mereka, orang-orang munafik itu, masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut, padahal mereka telah diperintahkan oleh Yang Mahakuasa melalui kitab yang diturunkan-Nya, untuk mengingkari Tagut itu. Dan sikap mereka seperti itu telah dipengaruhi oleh setan yang bermaksud menyesatkan mereka dari jalan Allah dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.

Dibaca 20 kali