عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ ﴿١﴾
‘Abasa wa tawallā.
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ ﴿١﴾
‘Abasa wa tawallā.
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ ﴿٢﴾
An jā'ahul-a‘mā.
karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ ﴿٣﴾
Wa mā yudrīka la‘allahū yazzakkā.
Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)
اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ ﴿٤﴾
Au yażżakkaru fatanfa‘ahuż-żikrā.
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya.
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ ﴿٥﴾
Ammā manistagnā.
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),
فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ ﴿٦﴾
Fa anta lahū taṣaddā.
engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya.
وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ ﴿٧﴾
Wa mā ‘alaika allā yazzakkā.
Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).
وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ ﴿٨﴾
Wa ammā man jā'aka yas‘ā.
Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ ﴿١٠﴾
Fa anta ‘anhu talahhā.
malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.