Surah 8042 Ayat
Wahyu Ke-24
1 Ruku

'Abasa

Berwajah MasamSurat Makkiyah‘Abasa
Bismillah

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ ﴿١﴾

‘Abasa wa tawallā.

Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Jika bagian akhir Surah an-Nziat menjelaskan tugas Nabi sebagai pemberi peringatan tentang hari kiamat, maka pada permulaan Surah Abasa Allah menyebutkan siapa yang akan mendapatkan manfaat dari peringatan tersebut. Disebutkan bahwa seorang pria buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum, anak paman Khadijah, menghadap Nabi untuk meminta petunjuk. Ketika itu Nabi tengah berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi kurang berkenan dengan kedatangannya. Muka Nabi menjadi masam. Atas perilaku tersebut Allah menegurnya dengan halus. Teguran ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan Nabi melainkan kalamullah. Dengan teguran itu Allah menghendaki agar Nabi Muhammad melakukan hal yang lebih utama, yaitu memperhatikan orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan berpegang teguh dengan Islam. Dia, Nabi Muhammad, berwajah masam karena kedatangan Ibnu Ummi Maktum, dan berpaling darinya untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemuka Quraisy.

اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ ﴿٢﴾

An jā'ahul-a‘mā.

karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Nabi kurang berkenan sehingga bermuka masam karena seorang buta telah datang kepadanya, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Allah menegur Nabi karena lebih mementingkan bertemu dengan pemuka Quraisy untuk mengajak mereka masuk Islam. Dalam pandangan Allah, semestinya Nabi lebih mementingkan siapa pun yang betul-betul ingin mengamalkan ajaran Islam, tidak peduli ia dari kalangan fakir miskin bahkan cacat. Abdullah terus memanggil-manggil Nabi, sedang dia karena kebutaannya tidak tahu bahwa beliau sedang bersama para pemuka Quraisy (Lihat: Surah al-An’am/6: 52; al-Kahf/18: 28).

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ ﴿٣﴾

Wa mā yudrīka la‘allahū yazzakkā.

Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Wahai Nabi Muhammad, Kami menegur sikapmu yang demikian karena tahukah engkau barangkali dia datang menghadapmu untuk minta pengajaran darimu sebab dia ingin menyucikan dirinya dari dosa dan kesalahan masa lalunya?

اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ ﴿٤﴾

Au yażżakkaru fatanfa‘ahuż-żikrā.

atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya.

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Atau tahukah engkau bila dia datang karena dia ingin mendapatkan pengajaran Al-Qur’an dan ajaran Islam darimu, yang memberi manfaat kepadanya sehingga dia lebih tekun beribadah, beramal saleh, dan menjadi pengikut setiamu?

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ ﴿٥﴾

Ammā manistagnā.

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup dengan apa yang dia punya, seperti kedudukan, status sosial, dan kekayaan; sehingga dia enggan beriman kepada Allah dan mengikuti ajaranmu,

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ ﴿٦﴾

Fa anta lahū taṣaddā.

engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya.

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

maka engkau justru memberi perhatian kepadanya secara penuh agar jika dia masuk Islam dan menjadi pelopor bagi pengikutnya. Dalam berdakwah kepada pemuka Quraiys, Nabi sebetulnya mempunyai niat yang mulia, tetapi Allah menegur perlakuan Nabi kepada Abdullh lebih karena Dia menginginkan Nabi melakukan sesuatu yang lebih baik.

وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ ﴿٧﴾

Wa mā ‘alaika allā yazzakkā.

Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Wahai Nabi, mengapa engkau lebih mengutamakan pelayanan terhadap pemuka Quraisy itu, padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak menyucikan diri dengan beriman kepada Allah? Tugasmu hanyalah menyampaikan wahyu, dan setelah itu tidak ada dosa bagimu jika dia tetap berpaling dan enggan mengikuti petunjukmu. Lalu, mengapa engkau menomorduakan permintaan orang buta lagi fakir yang ingin belajar Islam darimu?

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ ﴿٨﴾

Wa ammā man jā'aka yas‘ā.

Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

Dan adapun orang, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum, yang datang kepadamu dengan bersegera dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengajaran Islam darimu,

وَهُوَ يَخْشٰىۙ ﴿٩﴾

Wa huwa yakhsyā.

sedangkan dia takut (kepada Allah),

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

sedang dia takut akan siksa Allah jika tidak mematuhi-Nya,

فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ ﴿١٠﴾

Fa anta ‘anhu talahhā.

malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.

Juz 30 · Hal. 585 · Asbabun Nuzul

Tampilkan tafsir di halaman ini

engkau malah mengabaikannya, berpaling darinya, tidak menghiraukannya, dan bermuka masam kepadanya.

كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌۚ ﴿١١﴾

Kallā innahā tażkirah(tun).

Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Menjelaskan tujuan utama dari teguran-Nya, Allah berfirman, “Sekali-kali jangan berbuat demikian! Sungguh, ajaran-ajaran Allah itu suatu peringatan bagi semua orang agar mereka kembali ke fitrah, yaitu mentauhidkan-Nya dan mengimani-Nya.”

فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۘ ﴿١٢﴾

Faman syā'a żakarah(ū).

Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Perigatan-peringatan Allah sudah sangat jelas, maka barang siapa menghendaki untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh, tentulah dia akan memperhatikannya, menghayatinya, lalu mengamalkannya. Tidak ada yang menghalangi seseorang memperoleh peringatan itu selain hati yang penuh kesombongan dan keingkaran.

فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ ﴿١٣﴾

Fī ṣuḥufim mukarrmah(tin).

di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah),

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Peringatan-peringatan dalam ayat Al-Qur’an itu terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan karena berada di sisi Allah dan memuat kalam serta dan pesan-Nya yang sangat berharga.

مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢۙ ﴿١٤﴾

Marfū‘atim muṭahharah(tin).

yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Itulah lembaran-lembaran mulia yang ditinggikan derajatnya dan disucikan; tidak ada yang bisa mengotori bahkan menjamahnya. Lembaran-lembaran itu dijauhkan dari segala kekurangan dan tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya.

بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ ﴿١٥﴾

Bi'aidī safarah(tin).

di tangan para utusan (malaikat)

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Lembaran-lembaran itu berada di tangan para utusan, yaitu para malaikat, pesuruh Allah yang bertugas sebagai penyampai pesan-pesan-Nya.

كِرَامٍ ۢ بَرَرَةٍۗ ﴿١٦﴾

Kirāmim bararah(tin).

yang mulia lagi berbudi.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Para malaikat penulis itu adalah makhluk Allah yang mulia lagi berbakti. Mereka tidak pernah durhaka kepada-Nya dan tidak pula melanggar titah-Nya.

قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ ﴿١٧﴾

Qutilal-insānu mā akfarah(ū).

Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab yang penuh peringatan bagi manusia agar mereka mengikuti jalan Allah, tetapi celakalah manusia, alangkah jauh mereka dari rahmat Allah, alangkah kufurnya dia kepada peringatan Tuhan!

مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ ﴿١٨﴾

Min ayyi syai'in khalaqah(ū).

Dari apakah Dia menciptakannya?

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Mengapa mereka ingkar? Tidakkah mereka sadar dari apakah Dia menciptakannya?

مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ ﴿١٩﴾

Min nuṭfah(tin), khalaqahū fa qaddarah(ū).

Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah. Allah menciptakannya dari sesuatu yang hina, yaitu setetes mani. Dia menciptakannya melalui berbagai tahapan, dari tahap alaqah yang menempel di dinding rahim, lalu berubah menjadi mudgah, kemudian tahap pembentukan tulang, kemudian tahap dibungkusnya tulang itu dengan daging, lalu Allah menentukannya dan mewujudkannya dalam bentuk yang sempurna, dilengkapi dengan panca indera, akal, dan sebagainya.

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ ﴿٢٠﴾

Ṡummas-sabīla yassarah(ū).

Kemudian, jalannya Dia mudahkan.746)

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Setelah mewujudkan manusia dalam bentuk yang sempurna, dengan kasih sayang-Nya kemudian jalannya Dia mudahkan dengan cara mengeluarkannya dari perut ibunya. Dia juga memberinya kemudahan untuk membedakan kebaikan dan keburukan agar dia memilih jalan hidupnya sendiri.

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ ﴿٢١﴾

Ṡumma amātahū fa aqbarah(ū).

Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Kemudian setelah manusia menuntaskan hidupnya di dunia, Dia mematikannya dengan mencabut rohnya dan menguburkannya untuk menjalani kehidupan baru di alam barzakh. Manusia tidak bisa menolak kematian; sebagaiamana dia diciptakan dari tanah, dia akan kembali ke tanah.

ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ ﴿٢٢﴾

Ṡumma iżā syā'a ansyarah(ū).

Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Setelah manusia berada di alam barzakh sekian lama, kemudian jika Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali di hari kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ ﴿٢٣﴾

Kallā lammā yaqḍi mā amarah(ū).

Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Allah telah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada manusia, namun banyak dari mereka enggan bersyukur, bahkan berbuat maksiat. Sungguh suatu hal yang mengherankan. Sekali-kali jangan berbuat demikian; dia itu belum melaksanakan apa yang Dia perintahkan kepadanya, yaitu beriman, beribadah, dan menaati aturan-Nya.

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓۙ ﴿٢٤﴾

Falyanẓuril-insānu ilā ṭa‘āmih(ī).

Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Jika manusia bersikeras dengan keingkarannya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya yang dia makan setiap hari; dari mana makanan itu berasal?

اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ ﴿٢٥﴾

Annā ṣababnal-mā'a ṣabbā(n).

Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Kamilah yang menyediakan makanan itu bagi mereka melalui beberapa tahap. Kamilah yang telah mencurahkan air hujan yang melimpah dari arah langit, yang berasal dari uap air yang membentuk awan yang menggumpal dan saling bertumpuk.

ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ ﴿٢٦﴾

Ṡumma syaqaqnal-arḍa syaqqā(n).

Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Kemudian setelah air hujan itu membasahi bumi, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Kami suburkan kembali bumi yang tadinya tandus. Biji-bijian di dalam tanah mulai hidup dan menyeruak ke atas, membelah permukaan tanah.

فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ ﴿٢٧﴾

Fa'ambatnā fīhā ḥabbā(n).

Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian dengan segala macam dan ragamnya, seperti biji padi dan gandum.

وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ ﴿٢٨﴾

Wa ‘inabaw wa qaḍbā(n).

anggur, sayur-sayuran,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Dan Kami tumbuhkan pula di sana anggur dan sayur-sayuran,

وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ ﴿٢٩﴾

Wa zaitūnaw wa nakhlā(n).

zaitun, pohon kurma,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

dan demikian pula zaitun dan pohon kurma yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.

وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا ﴿٣٠﴾

Wa ḥadā'iqa gulbā(n).

kebun-kebun (yang) rindang,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Dan Kami tumbuhkan juga dengan air hujan itu kebun-kebun yang rindang dan menyejukkan pandangan, menjadi tempat tinggal ber-bagai binatang, dan memproduksi oksigen.

وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا ﴿٣١﴾

Wa fākihataw wa abbā(n).

buah-buahan, dan rerumputan.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Dan dengan air hujan itu pula Kami tumbuhkan pohon penghasil buah-buahan yang beraneka warna serta rerumputan.

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ ﴿٣٢﴾

Matā‘al lakum wa li'an‘āmikum.

(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Kami tumbuhkan itu semua untuk kesenanganmu agar hidupmu makmur dan sejahtera, dan untuk kesenangan hewan-hewan ternakmu. Dengan itu semua kamu hidup tenang dan tidak bersusah payah. Kamu hanya perlu emanfaatkannya, menjaga kelestariannya, dan mengimani Penciptanya sebagai bentuk rasa syukurmu kepada-Nya.

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُۖ ﴿٣٣﴾

Fa iżā jā'atiṣ-ṣākhkhah(tu).

Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala),

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Kenikmatan-kenikmatan itu kelak akan diminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Maka apabila datang suara tiupan sangkakala kedua yang memekakkan telinga dan menjadi penanda bangkitnya manusia dari kubur,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ﴿٣٤﴾

Yauma yafirrul-mar'u min akhīh(i).

pada hari itu manusia lari dari saudaranya,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

yaitu pada hari itu manusia lari dari orang yang dicintainya, seperti saudaranya,

وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ﴿٣٥﴾

Wa ummihī wa abīh(i).

(dari) ibu dan bapaknya,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

dan dari ibu dan bapaknya yang melindungi dan mengayominya,

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ﴿٣٦﴾

Wa ṣāḥibatihī wa banīh(i).

serta (dari) istri dan anak-anaknya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

dan dari istri dan anak-anaknya yang selalu bersamanya,

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ﴿٣٧﴾

Likullimri'im minhum yauma'iżin sya'nuy yugnīh(i).

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

maka setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. Semua ingin menyelamatkan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Mereka takut dan cemas atas apa yang terjadi di hadapan mereka dan khawatir akan nasib mereka.

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ ﴿٣٨﴾

Wujūhuy yauma'iżim musfirah(tun).

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri,

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri. Itulah muka orang-orang yang pada saat di dunia beriman dan beramal saleh.

ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌۚ ﴿٣٩﴾

Ḍāḥikatum mustabsyirah(tun).

tertawa lagi gembira ria.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Mereka tertawa dan bergembira ria bersama kaum mukmin yang lain. Mereka tidak takut dan khawatir akan nasib mereka karena yakin Allah akan memberi balasan dengan sebaik-baiknya.

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ ﴿٤٠﴾

Wa wujūhuy yauma'iżin ‘alaihā gabarah(tun).

Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram)

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Dan di sisi yang lain pada hari itu ada pula wajah-wajah manusia yang tertutup debu,

تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌۗ ﴿٤١﴾

Tarhaquhā qatarah(tun).

dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

pucat pasi, menghitam, dipenuhi kecemasan serta ketakutan yang sangat, tertutup oleh kegelapan akibat ditimpa kehinaan dan kesusahan.

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُࣖ ﴿٤٢﴾

Ulā'ika humul-kafaratul-fajarah(tu).

Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.

Juz 30 · Hal. 585

Tampilkan tafsir di halaman ini

Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka. Mereka tidak beriman, tidak bersyukur, dan tidak pula beribadah kepada-Nya, bahkan sering berbuat maksiat. Demikianlah kesudahan umat manusia di akhirat nanti.