Surah 2Ayat 198 / 286

Al Baqarah

SapiMadaniyahJuz 2Halaman 31
WukufMabit di MuzdalifahBoleh berdagang usai manasik

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفٰتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ﴿١٩٨﴾

Laisa ‘alaikum junāḥun an tabtagū faḍlam mir rabbikum, fa'iżā afaḍtum min ‘arafātin fażkurullāha ‘indal-masy‘aril-ḥarām(i), ważkurūhu kamā hadākum, wa in kuntum min qablihī laminaḍ-ḍāllīn(a).

Terjemahan

Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu (pada musim haji). Apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam. 60) Berzikirlah kepada-Nya karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu meskipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.

Catatan Kaki:60) Yang dimaksud dengan ‘Masyarilharam’ adalah bukit Quzah di Muzdalifah, tetapi Muzdalifah secara keseluruhan dapat digunakan untuk tempat mabīt.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 198 - Penegasan Allah bahwa Tidak Dilarang Seseorang Berdagang atau Bekerja pada Musim Haji

Ayat ini turun terkait dengan para sahabat yang khawatir berdosa apabila berjualan pada musim haji. Dengan turunnya ayat ini Allah hendak menegaskan bahwa pada musim haji seseorang tidak dilarang berusaha, seperti berdagang, bekerja, dan semisalnya, selama hal itu tidak mengganggu tujuannya yang utama, yakni menunaikan ibadah haji dengan sempurna.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: كَانَتْ عُكَاظٌ وَمَجَنَّةُ وَذُو الْمَجَازِ أَسْوَاقًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَتَأَثَّمُوا أَنْ يَتَّجِرُوا فِي الْمَوَاسِمِ، فَنَزَلَتْ: (‏لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ‏)‏ فِي مَوَاسِمِ الْحَجِّ. (1) عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ التَّيْمِيُّ، قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً أُكْرِي فِي هَذَا الْوَجْهِ وَكَانَ نَاسٌ يَقُولُونَ لِي إِنَّهُ لَيْسَ لَكَ حَجٌّ فَلَقِيتُ ابْنَ عُمَرَ فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَجُلٌ أُكْرِي فِي هَذَا الْوَجْهِ وَإِنَّ نَاسًا يَقُولُونَ لِي إِنَّهُ لَيْسَ لَكَ حَجٌّ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ أَلَيْسَ تُحْرِمُ وَتُلَبِّي وَتَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَتُفِيضُ مِنْ عَرَفَاتٍ وَتَرْمِي الْجِمَارَ قَالَ قُلْتُ بَلَى‏.‏ قَالَ فَإِنَّ لَكَ حَجًّا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَهُ عَنْ مِثْلِ مَا سَأَلْتَنِي عَنْهُ فَسَكَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يُجِبْهُ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: (لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ)‏ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَقَرَأَ عَلَيْهِ هَذِهِ الآيَةَ وَقَالَ:‏ لَكَ حَجٌّ . (2)‏

Ibnu ‘Abbas radiyallahu 'anhuma berkata, “‘Ukaz, Majannah, dan z\ul-Majaz adalah beberapa nama pasar yang ada pada masa jahiliyah. Mereka (para sahabat) khawatir berdosa bila berjualan pada musim-musim haji. Karena itulah Allah menurunkan firman-Nya, laisa ‘alaikum junahun an tabtagu fadlan min rabbikum—bukanlah suatu dosa bila kalian berjualan pada musim-musim haji.” Dalam riwayat yang lain disebutkan, Abu Umamah at-Taimiy bercerita, “Aku menyewakan unta pada musim haji—untuk ditunggangi para jamaah haji. Orang-orang yang melihatku berkata, ‘Hajimu tidak sah.’ Karena itu aku menemui Ibnu ‘Umar dan menanyainya, ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, aku menyewakan unta pada musim haji. Orang-orang pun berkata bahwa hajiku tidak sah.’ Ibnu ‘U mar menjawab, ‘Bukankah engkau berihram, bertalbiah, tawaf di Baitullah, meninggalkan Arafat (usai wukuf ), dan melempar jumrah?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia pun berkata, ‘Kalau begitu, hajimu sah. Dulu ada seorang pria menghadap Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan menanyakan apa yang kau tanyakan kepadaku. Beliau diam tidak menjawab hingga akhirnya turunlah ayat, laisa ‘alaikum junahun an tabtagu fadlan min rabbikum. Usai ayat ini turun, beliau mengutus seseorang untuk memanggil pria tadi. Rasulullah lalu membacakan ayat ini di hadapannya dan bersabda, ‘Hajimu sah.’”

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Sahih} al-Bukhariy, dalam Kitab at-Tafsir, Bab Laisa ‘Alaikum Junahun an Tabtagu Fadlan min Rabbikum, hlm. 1107, hadis nomor 4519. (2) Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim. al-Hakim menilai sanad hadis ini sahih, dan az\-Z|ahabiy pun setuju dengannya. Lihat: Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, dalam Kitab al-Manasik, Bab al-Kariy, hlm. 204, hadis nomor 1733; al-Hakim, al-Mustadrak, dalam Kitab al-Manasik, juz 1, hlm. 618, hadis nomor 1647.

HajiJualMusim

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 198 - Imam as Suyuthi : Anggapan Berdosa Bagi Orang-Orang Yang Berniaga Ketika Musim Haji

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berdzikir kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas berkata, “Bahwa dahulu ‘Ukazh, Majinnah, dan Dzul Majaz adalah pasar-pasar dalam masa Jahiliah, dan mereka berdosa jika mereka melakukan perniagaan dalam musin-musim haji, maka mereka bertanya kepada Rasulullah tentang hal tersebut, maka turunlah firman Allah, “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu." Pada musim-musim ibadah haji106. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, Al- Hakim, dan yang lainnya dari jalur-jalur yang berasal dari Abi Umamah At-Taimi berkata, “Aku berkata kepada Ibnu Umar: “Kami menyewakan tanah kami, apakah pada waktu yang sama kami boleh melakukan haji?” Ibnu Umar pun berkata, “telah datang seseorang kepada Nabi & bertanya tentang hal yang sedang engkau tanyakan kepadaku sekarang, tetapi Rasul tidak menjawab. Hingga turun Jibril menyampaikan kepadanya ayat, “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu." Kemudian Rasul memanggil orang tersebut dan bersabda, “Kalian dapat menunaikan haji." (1)
(1) Ad-Daraquthni (2/192), Ad-Dur Al-Mantsur (1/222), dan Ibnu Katsir (1/328).
berniagaHaramMusim Haji

Tafsir Lengkap

Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu beru-pa rezeki yang halal melalui berdagang, menawarkan jasa, dan menyewakan barang. Di antara kaum muslim ada yang merasa berdosa untuk berdagang dan mencari rezeki yang halal pada musim haji, padahal Allah membolehkannya dengan cara-cara yang diatur dalam Al-Qur'an. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah setelah wukuf, sejak matahari terbenam pada tanggal 9 Zulhijah dan sudah sampai di Muzdalifah, maka berzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam, yakni di Muzdalifah, dengan tahlil, talbiah, takbir, dan tahmid. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu mengikuti agama yang benar, keyakinan yang kukuh, ibadah yang istikamah, dan akhlak yang mulia, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu. Zikir itu merupakan rasa syukur atas nikmat Allah yang telah membimbing para jamaah haji menjadi orang-orang beriman.

Dibaca 16 kali